PUESEEKKPOL
JHS2PWT--8Best uuuu
orangorang pesek
oi, aku orang pesek asli purwokerto. bukannya ngece emang orang asia itu pesek-pesek... (kata buguru IPS) *entringg... tapi, ga setiap orang pesek itu jelek. dan juga, pesek bukan faktor keturunan. mameng bapol aku mancung-mancung.. :( aku? yah, soalnya waktu aku mau lahirr, keluarnya berhenti di pas hidung, jadi...... emm.. gausah dijelasin kalian tauu..
oke, aku itu anak baik. kalo kalian main sama aku, udah dipastikan kalian semuanyee ga sesat. :* ehe,,
oke, aku itu anak baik. kalo kalian main sama aku, udah dipastikan kalian semuanyee ga sesat. :* ehe,,
Selasa, 27 Maret 2012
GRADE 2-2 Part 2
Part 2
Title : Grade 2-2 (2-2 학년) Part 1
Rating : K-15
Genre : Romance, School, Comedy
Main Cast :
Nana After School = Im Jin Ah
Nichkhun = Nichkhun Horvejkul
Minho = Choi Min Ho
Eun Jung = Ham Eun Jung
Cast :
Ji Yeon = Park Ji Yeon
Suzy Miss A = Bae Sue Ji
Wooyoung = Jang Woo Young
Victoria Song = Song Qian
Yoo Seung Ho = Yoo Seung Ho
Uee After School = Kim You Jin
Soundtrack :
Love Love Love – Epik High
I Can’t – 2PM
Falling – Park Jin Young
Is This Love – BoA
Jalhalgeyo – Brown Eyed Girls
Fallin’ – BoA
My Angel – Fly To The Sky
Mot Gah – Brown Eyed Girls
Other Cast :
Lee Hyun Woo = Lee Hyun Woo
Lee Tae Sung = Lee Tae Sung
Jin Ah POV
Aku masih panik akan yang dikatakan Ju Hwan oppa kemarin. Aku sekarang sedang menunggu bus di halte bus dekat perumahan. Ahh, itu ada bus. Aku akan langsung masuk, tetapi seorang pria menubrukku sampai aku terjatuh dan lari begitu saja. Aku berdiri lagi dan mengacuhkan orang tadi. Aku masuk kedalam bus dan duduk di paling depan.
Kertas di tanganku sudah sangat kucel karena sedari tadi menggulung-gulung kertas ini. Ini adalah kertas yang berisikan cerita untuk aku sampaikan nanti di depan kepala sekolah Daebak. Aku masih khawatir dan gugup. Tapi setelah melihat SMA Daebak, aku berusaha untuk menyembunyikan kepanikanku.
Aku turun dari bus dan menyeberang ke Daebak. Hmm—memang ramai dan lebih ramai dari sebelumnya. Waa.. aku menemukan panggung dan mic yang kira-kira nanti pasti akan jadi tempat sambutan kepala sekolah.
Aku segera ke kantor kepala sekolah dengan langkah yang santai. Berusaha untuk menjadi anak yang permberani dan tidak lebay. Itu... aku mengutip dari perkataan Ju Hwan oppa (hehe).
Aku mengetuk pintu ruang kepsek. Dan kepsek pun mempersilahkan aku masuk.
“Siapa? Ada apa?” kepsek tidak melihat ke arahku setelah aku membuka pintu ruangnya.
Aku sengaja tidak mengatakan apapun sebelum wanita ini melihat ke arahku. Benar saja, wanita itu melihatku dan membenarkan kacamatanya.
“Aku—adalah Im Jin Ah, siswa yang...” kataku terputus karena dia membuka mulutnya.
“Im Jin Ah yang peringkat paling bawah?” katanya melepas kacamatanya.
Sepertinya aku mengenal wanita ini. Aku segera mengingat-ingat wajahnya yang mirip seseorang.
“Tidak kusangka, kita bertemu disini Nona Im,” katanya lagi mendekatiku.
Aku melihat matanya baik-baik. Sangat mirip dengan—ah, aku ingat. Dia adalah.......
“Nyonya Choi?” aku menebak-nebak. Mendesis.
“Yap. Pasti kau mau bertanya kenapa kau tidak diterima,” katanya berkacak pinggang.
Kukira dia sudah pergi, hilang entah kemana. Kukira dia sudah tidak ada di Seoul.
Aku hanya diam. Aku masih menatap matanya yang menggunakan soft lense hias berwarna coklat emas. Rambutnya masih seperti yang dulu, keriting hitam. Sekarang dia berdandan seba blink. Mencolok. Aku tidak tahan dengan fashionnya yang kata Ju Hwan oppa lebay.
“Kau tidak ikut tes praktik. Makanya tidak diterima. Kalau berani, kau boleh demonstrasi disini. Pasti kau akan diolok-olok. Memang dasar anak pelacur!” katanya kasar.
Mataku panas dan tenggorokanku tercekat. Air di pelupuk mataku mungkin sudah akan tumpah menjadi air mata. Namun, aku cepat memandang ke langit-langit. Ini cara ampuh supaya tidak menangis. Cara ini kubaca di novel One Litre of Tears.
“Nyonya Choi, lihat saja nanti!” aku undur diri dari ruang kepsek dan mempersiapkan segalanya.
Jin Ah POV end
Minho POV
Aku berada di depan rumah Jin Ah. Lenganku sakit karena barusan menabrak seorang gadis sampai ia terjatuh. Aku merasa bersalah kepada gadis tadi. Mudah-mudahan dia memaafkanku.
Pintu rumah Jin Ah terbuka. Ju Hwan hyung yang membukanya.
“Jin Ah?” tanya Ju Hwan hyung yang dapat membaca pikiranku.
“Emm.,” aku mengangguk.
“Dia—dia sudah berada di Daebak,” katanya santai.
Tanpa berkata apapun kepada Ju Hwan hyung, aku berlari menuju Daebak. Kali ini aku benar-benar berlari. Mengacuhkan setiap bus yang lewat. Aku hanya berpikir bagaimana perasaan Jin Ah ketika dia tahu bahwa tidak ada tes praktik susulan baginya.
Setiap langkahku, aku korbankan untuk Im Jin Ah. Entah mengapa. Mungkin karena aku sayang. Tapi rasa ini benar-benar bukan untuk seorang adik. Tetapi—untuk seorang wanita yang aku cintai.
Aku mengacuhkan rasa lelah untuknya sekarang. Aku tidak dapat melihatmu dipermalukan ibu dihadapan orang lain. Tujuanku hanya satu. Menjagamu dari segalanya yang benar-benar membuatmu sakit.
Aku sudah dekat dengan SMA Daebak. Tapi aku mendengar seseorang sedang menceritakan sesuatu dengan bahasa inggris. Yap, suara Jin Ah. Aku percepat langkahku.
“... because of his kindness, the princess want to marry him. She was falling in love with the prince...” katanya fasih dan percaya diri di atas panggung.
Aku kagum dengannya. Aku lihat ibu ada di sampingnya. Dan penonton pun menikmati kisahnya. Aku menghampiri Nichkhun, Qian, dan You Jin yang sedang ternganga mendengarkan kefasihan bahasa inggris milik Jin Ah.
“Minhoo-yya!” You Jin memanggilku.
“Wah.. dia sangat fasih berbicara inggris,” kata Qian.
“Jelas,” You Jin mengacungkan jempol saat aku duduk di sebelahnya.
Kulihat Nichkhun tersenyum kecil melihat Jin Ah bercerita. Dia duduk dengan santai sambil melipat tangannya di dada. Seakan-akan mengerti apa yang Jin Ah sampaikan. Saat Jin Ah melontarkan humornya, ia tertawa. Saat Jin Ah menunjukkan suasana yang serius, dia benar-benar serius mendengarkan. Sampai akhirnya pertunjukkan Jin Ah selesai.
“Kupikir, dia bakal masuk Daebak,” kata Nichkhun santai.
“Harus,” kata You Jin menyetujui.
Aku mempunyai pendapat sebaliknya. Karena mungkin saja ibu tidak menerimanya. Kalau ibu sampai menerimanya, pasti—Jin Ah akan menjadi korban dari pelampiasannya.
Ibu tampak merebut mic dari tangan Jin Ah setelah penonton bertepuk tangan. Dia membuka mulutnya sambil terus tersenyum.
“Saya nyatakan, murid Im Jin Ah...” ibu menahan perkataan selanjutnya,”... masuk ke Daebak!”
Penonton bersorak. Apalagi Nichkhun dan You Jin. Qian dan aku hanya melihat suasana yang riuh ini dengan khawatir. Tampak Qian menyembunyikan rasa cemburunya kepada Im Jin Ah. Dia terpaksa berdiri menyambut Jin Ah yang datang ke gerombolan kami.
“You Jin-aa... aku diterimaaaaaaaaaa!!!” Jin Ah sangat senang.
Dia memeluk You Jin dan tertawa karena mungkin tidak percaya ibu sebaik tadi. Dia lalu memperhatikanku dan kembali tertawa normal dengan You Jin.
Minho POV end
Author POV
Im Jin Ah dan Choi Minho turun dari bus bersamaan. Mereka berdua lalu berjalan menuju perumahan. Tidak ada kata-kata yang terucap dari mulut mereka berdua. Hening. Bukan karena ini malam hari.
“Mm—aku baru tau kalo.. kalo ibumu adalah kepsek Daebak,” kata Jin Ah memecahkan keheningan.
Mereka berjalan lambat sekali. Minho hanya menghela nafas dan menghembuskannya keras keras.
“Aku juga baru tau kemaren kemaren,” Minho setengah berbisik.
“Gara-gara itu, kau masuk Daebak?” tanya Jin Ah penasaran.
“Haha.. bukan. Hanya ayah saja yang ingin menyekolahkanku disana.”
“Ohh...”
“Ap—apa kau.. suka Nichkhun?” tanya Minho mengalihkan pembicaraan.
Jin Ah kaget. Dia menengok ke arah Minho. Dia menatap mata Minho yang penuh tanda tanya. Dia tiba-tiba teringat ibu apabila melihat bola mata Minho.
“Wae? Aku hanya tanya saja. Kan—bukan berarti kau...” kata Minho.
Tiba-tiba Jin Ah nyengir. Mukanya memerah. Dia sudah normal kembali. Dia sudah mulai tersenyum.
“Kau tau saja..,” Jin Ah memukul bahu Minho.
Minho melihat Jin Ah aneh. Tetapi dalam hati dia senang. Dia dapat melihat Jin Ah yang seperti biasa. Selain senang, dia merasakan kekecewaan. Kecemburuan.
“Berarti.. benar-benar menyukai Nichkhun nih?” goda Minho mencolek pipi Jin Ah.
“Fuuhh.. tapi jangan bilang siapa-siapa yaa!” Jin Ah kembali ceria.
Jin Ah berjingkrak-jingkrak menuju rumahnya. Di depan rumahnya, dia melambaikan tangan kepada Minho yang terus berjalan. Dia tersenyum seperti dulu. Dan bahagia seperti dulu.
“Aku pulaaangg!” Jin Ah masuk ke rumah dengan ceria.
Ju Hwan dan Tuan Im memandangi Jin Ah aneh.
“Yya—nona penyendiri sudah tidak murung lagi?” Tuan Im berdiri dari tempat duduk dan mencowel hidungnya.
“Soalnyaa—“ kata Jin Ah masih pikir-pikir. Kasih tau enggak ya?
“Diterima ‘kan?” Ju Hwan menerka-nerka.
“Itu sih udah pasti!” Tuan Im yakin.
“Soalnyaa.. ada Thai Prince!” Jin Ah melompat.
“THAI PRINCE?” Ju Hwan dan Tuan Im kaget.
“Emm.. anak cowok yang daftar ke Daebak. Ganteng banget. Terus dia asli dari Thailand. Sayaang...”
“SAYANG?” Ju Hwan dan Tuan Im penasaran.
“Dia.. udah punya pacarr!” Jin Ah duduk lemas di ruang makan.
“Pacarnya seperti apa? Biar aku pacari!” Ju Hwan duduk di sebelah Jin Ah.
“HEH! Kau lulus saja belum! Mau pacaran bagaimana?” Tuan Im duduk di depan mereka berdua.
“Namanya Qian. Dia cantik, manis, dan cerdas. Tapi dia pemalu,” kata Jin Ah.
“No problemo! Aku suka yang malu-malu,” kata Ju Hwan.
“Malu-maluin?” Tuan Im menggoda Ju Hwan.
“Ish!” Ju Hwan tidak rela Qian diplesetkan menjadi malu-maluin.
Mereka hari ini bahagia atas diterimanya Jin Ah di Daebak. Dan ini berarti permintaan terakhir Nyonya Im terkabulkan.
7 hari kemudian...
Im Jin Ah bersiap-siap menuju ke sekolah. Dia mengenakan seragam Daebak dengan rapi. Semua perlengkapan sudah dia masukkan ke dalam tas. Dan tas sudah ada di pundaknya.
“Oppa! Aku berangkat dulu. Kau memang lamban!” Jin Ah keluar rumah.
Ju Hwan oppa hanya melihat ke arah Jin Ah yang sedang mengayuh sepeda milik Jin Ah menuju keluar perumahan. Pagi ini, dia sengaja berangkat agak siang karena baru saja membantu Tuan Im. Tuan Im sendiri belum pulang dari pabrik.
Author POV end
Jin Ah POV
Aku mengayuh sepeda dengan semangat pagi ini. Aku sengaja tidak naik bus untuk menghemat uang saku bulan ini. Fuhh.. ibu, lihat aku. Aku sudah menjadi siswi Daebak. Tolong lindungi aku, Bu.
Setelah memarkirkan sepeda, aku masuk kelas 1-6. Yahh.. karena aku masuk kelas 1-6. Aku sekelas dengan You Jin. Sementara Minho dan Nichkhun? Aku tidak tahu. Haha..
“Jin Ah-yaa!” You Jin memberiku tempat duduk di sebelahnya.
Tempat duduk kelas ini kulihat tidak seperti milik kelas lain. Tempat duduk di kelas 1-6 terbuat dari plastik dan kayu. Sementara tempat duduk di kelas 1 lain terbuat dari besi dan plastik. Papan tulis saja, kelas 1 yang lain masih bagus. Tapi milik kelas 1-6 tidak sama sekali.
Aku duduk di sebela You Jin. Lalu, aku meletakkan tasku di gantungan tas yang berada di samping meja, mengambil buku pelajaran dan keluar kelas bersama You Jin. Kami memang tidak terlalu suka keadaan kelas yang sekarang. Sangat ribut.
“You Jin—aa, kelas kita kok paling beda, ya?” tanyaku setelah aku duduk di bangku di depan kelas.
“Emm.. molla. Mungkin memang belum mampu membeli yang baru,” You Jin mencoba positive thinking.
Aku mengangguk-angguk. Dan kulihat Nichkhun lewat di depanku. Lewat bersama dengan teman temannya. Tertawa bersama teman-temannya. Tapi dia tidak melihatku tadi. Ah, sungguh sangat mengecewakan.
“Nichkhun?” You Jin menunjuk-nunjuk gerombolan Nichkhun dengan teman-temannya.
“Mm.. wae?” aku penasaran. You Jin pasti akan menyampaikan khotbah penting.
“Kok—dia bergaul dengan anak-anak yang seperti itu ya? Aku jadi khawatir,” kata You Jin.
“Memangnya anak-anak tadi kenapa?”
“Kau tidak tau?”
Aku menggelengkan kepala.
“Mereka anak-anak bejad disini. Bahkan yang paling eksis disinipun kau tidak tau? Fuhh!” You Jin melipat kedua tangannya di dadanya.
“Ooo.. kau sekarang jadi eksis, ya?” aku meledeknya.
“Jangan kira aku tidak terkenal disini. Aku kenal banyak kakak kelas.”
“Kakak kelas disini ‘kan susah dideketin. Gimana cara ndeketinnya?”
“TWITTER.”
aku pergi dari situ karena tidak tertarik dengan Twitter atau segala macem. Aku masuk ke kelas. Begitu pula You Jin.
Jin Ah POV end
Author POV
Im Jin Ah masuk kelas 1-6. Begitu juga Kim You Jin. Sementara Choi Minho masuk kelas 1-5, Nichkhun masuk kelas 1-7, dan Song Qian masuk kelas 1-5.
Di kelas 1-6, datanglah seorang guru yang ternyata adalah wali kelas 1-6. Dia segera mengabsen semua anak yang hadir. Lalu dia memperkenalkan diri dengan cepat dan lantang.
“Anak-anak yang merasa mampu menjadi ketua kelas disini, harap tunjuk jari,” kata guru.
Kira-kira ada 2 orang laki-laki tunjuk jari. Diantara mereka, ada satu yang Jin Ah tau. Namanya Lee Hyun Woo. Seorang anak laki-laki yang dulu bersekolah di sebelah SMP nya.
“Lee Hyun Woo dan Bong Jin Young,” guru menulis nama mereka di papan tulis.
Kapur yang tadi dipegang oleh guru yang ternyata bernama guru Shi tadi, diberikan kepada anak yang duduk di pojok depan. Dan anak yang duduk di pojok depan tadi (panggil saja Cleo, karena potongan rambutnya seperti Cleopatra) maju ke depan. Memberi tanda √ di bawah nama Lee Hyun Woo. Yang berarti dia memilih Lee Hyun Woo.
Setelah itu, si Cleo memberikan kapur ke teman di belakang tempat duduknya. Anak yang duduk di belakang Si Cleo bernama Bae Sue Ji. Sue Ji menerima kapur dari si Cleo dan memberi tanda √ di bawah nama Bong Jin Young.
Dan persaingan berjalan ketat. Im Jin Ah memilih Lee Hyun Woo, karena dia memang hanya kenal Lee Hyun Woo. Dia sedikit melirik ke arah Lee Hyun Woo saat memberi tanda di bawah nama Lee Hyun Woo. Takut tidak direstui.
“Nah, sekarang. Saya ada urusan sebentar. Ada rapat kecil di kantor. Saya nyatakan, Lee Hyun Woo menjadi ketua, dan Bong Jin Young menjadi wakilnya,” kata guru Shi.
Semua anak bertepuk tangan. Lee Hyun Woo hanya tersenyum kepada Bong Jin Young. Bong Jin Young juga.
“Eh.. Lee Hyun Woo, sambil saya tinggal sebentar, kamu menunjuk pengurus kelas yang lain,” kata guru Shi kemudian.
“Apa saja, saem?” tanya Hyun Woo dengan sangat sopan.
“Sekretaris dulu saja. Yang lainnya biar nanti kita bicarakan.”
Guru Shi keluar dari kelas. Dan Hyun Woo maju ke depan kelas. Semua anak bersiap-siap mendengarkan perkataan pemimpin mereka satu tahun ke depan nanti. Tetapi dalam ketenangan, semburat tidak mau menjadi pengurus kelas muncul juga. Terbukti lewat si Cleo.
“Kamu mau enggak jadi sekretaris?” tawar Hyun Woo kepada Cleo.
Cleo menggeleng. Hyun Woo tidak memaksa. Lalu dia memutar matanya lagi. Matanya tertumbuk pada Bae Sue Ji yang selalu tertunduk.
“Kamu?” Hyun Woo menunjuk Sue Ji.
Sue Ji mengangkat kepalanya dan membelalakkan matanya. Lalu dia menggeleng.
Lee Hyun Woo sudah putus asa. Tetapi dia terus menunjuk anak perempuan yang menurutnya tulisannya bagus. Setelah tidak ada pilihan lagi, barulah Lee Hyun Woo menunjuk Im Jin Ah.
“Im Jin Ah?” Lee Hyun Woo memanggil nama Jin Ah.
Jin Ah kaget dan bingung. Kenapa Hyun Woo tahu namaku? Pikirnya.
“Mau jadi sekretaris?” tanya Hyun Woo sambil mengangkat alis.
Im Jin Ah pikir-pikir. Dia sih, memang mau menjadi sekretaris. Tetapi, bosan juga menjadi sekretaris. Dari SD sampai SMP, dia terus jadi sekretaris.
Tidak enaknya menjadi sekretaris adalah, selalu disalahkan apabila jurnal pelajaran tidak diisi. Selalu disalahkan apabila absensi siswa kelas lupa diisi. Disalahkan apabila tidak mau menulis di papan tulis. Menyimpan dokumen dokumen penting kelas, dan apabila hilang disalahkan. Apalagi jika dimarahi ketua kelas. Ini memalukan.
Menurut Jin Ah, Hyun Woo adalah tipe anak yang sangat menakutkan apabila marah. Jadi, kalau dia menerima tawaran Hyun Woo menjadi sekretaris, sama saja bunuh diri. Sama saja babak belur.
“Emm.. gimana ya?” Jin Ah menggumam.
Hyun Woo masih mengangkat alis dan mendelik ke arah Jin Ah. Jin Ah tidak berani melihat mata Hyun Woo dan berkata...
“YA!” Jin Ah berkata begitu sambil menutup matanya.
“Give applause to our secretary!” seru Hyun Woo sambil bertepuk tangan.
Semua anak pun bertepuk tangan. Jin Ah dengan sok kenal sok dekat, berdiri dan memberi hormat kepada semua. Tak terkecuali Lee Hyun Woo.
Author POV end
___
Nichkhun POV
Aku berada di gerbang sekolah sekarang. Memang sudah jam-nya untuk pulang. Aku menunggu ayah menjemputku. Tapi...
“Khun!” panggil seseorang.
Aku menoleh ke sumber suara. Ada temanku. Lee Tae Sung. Teman sekelasku. Dia mendekatiku dan menepuk bahuku.
“Kau dijemput?” tanyanya sambil tersenyum licik.
“Emm. Wae?” kataku.
Dia lalu tertawa kecil, “Kau.. kukira jantan selama ini. Ternyata kau betina!” ejeknya.
Aku masih tidak mengerti. Aku hanya diam, dan mengangkat sebelah alisku.
“Jantan—harus melawan peraturan. Bawa motor lain kali,” katanya.
Aku masih diam.
“Jantan—harus punya pacar,” katanya lagi.
Aku tersenyum tipis, “Aku.. punya pacar. Ketiga kalinya. Aku tahu kau hanya punya pacar untuk kedua kalinya. Itu saja jaraknya dekat-dekat,” gantian aku mengejeknya.
Tae Sung terlihat tidak suka dengan perkataanku.
“Wae?” aku tersenyum licik.
Tapi dia tiba-tiba tertawa keras. Dia menepuk bahuku lagi. Dengan sangat keras.
“Pacarmu yang Song Qian, ya?” tanyanya dengan senyum mengembang di wajahnya.
Aku bingung dengannya. Bagaimana dia tahu? Padahal aku tidak memberi tahunya.
“Bener. Wae?” tanyaku melepaskan tangannya dari bahuku.
“Gadis seperti itu kau pacari?” dia tertawa lagi, “..gadis pemalu dan pendiam di kelas?”
Aku terganggu dengan nada bicara Tae Sung yang mengejek. Aku tidak tahan lagi. Aku pergi dari situ dan –
“AKU TANTANG KAU UNTUK BAWA MOTOR DAN GANTI PACAR BESOK!” teriaknya setelah aku masuk mobil.
Setelah aku masuk mobil, ayah tidak langsung menjalankan mobil. Ayah membeli jajan pinggir jalan dulu untuk Yuh. Jadi, aku masih bisa melihat Tae Sung yang memanggil Qian.
Nichkhun POV end
Qian POV
Aku baru keluar kelas. Aku duduk dengan teman-teman baruku untuk menunggu dijemput. Tetapi, aku melihat Khunnie bersama Lee Tae Sung berbicara.
Setelah berbicara agak lama, aku melihat Khunnie meninggalkan Tae Sung dan menuju mobil ayahnya. Dan aku mendengar Tae Sung berteriak :
“AKU TANTANG KAU UNTUK BAWA MOTOR DAN GANTI PACAR BESOK!” ....... setelah Khunnie masuk mobil.
Ganti pacar? Apa maksud Tae Sung untuk menyuruh Khunnie ganti pacar? Pacar Khunnie kan—aku? Aku melihat Tae Sung memanggilku dan menyuruhku mendekat. Ya, aku mendekat.
“Wae?” aku berusaha untuk menjadi gadis non-pemalu.
“Kau pacar ‘Khunnie-Khunnie-Khunnie’, ya kan?” tanyanya dengan nada yang mengejek.
“Ne—apa urusanmu?” aku berkacak pinggang.
“Woaa.. gadis ini bukan gadis pemalu, tapi sok berani denganku ya?”
Tae Sung memegang pipiku dengan kedua tangannya yang besar dan mendekati wajahku.
“Kau mau apa?!” aku berusaha memberontak.
“Mau menciummu!” dia lalu mencium bibirku.
Aku berusaha melepaskan ciumannya dariku, tetapi tidak bisa. Ketika sudah banyak orang menonton kami, tak terkecuali Khunnie, Tae Sung melepaskan ciumannya. Aku masih shock karena aku belum pernah ciuman sebelumnya.
“Wae? Gadis Khunnie belum pernah ciuman ya ternyata?” katanya sambil melihat ke arah ku yang menunduk.
Semua anak yang menonton kami langsung bisik-bisik yang bisikan mereka tidak dapat aku dengar. Aku melirik ke jalan, memastikan agar Khunnie tidak melihat kejadian tadi. Tetapi mobilnya sudah tidak ada.
Qian POV end
Nichkhun POV
Aku melihat Tae Sung memanggil Qian. Tetapi, bodohnya Qian meladeni setan yang satu itu. Qian terlihat berusaha sangar. Ini membuat Tae Sung penasaran. Dan yang lebih parah lagi, aku melihatnya berciuman dengan Tae Sung! Tanpa perlawanan yang pasti. Setelah dicium pun dia tidak segera lari atau menampar.
Ayah masuk mobil dan menoleh ke arahku yang sedang memandang ke luar dan mengepalkan tangan sekuat tenaga. Lalu dia menjalankan mobil.
Aku benar-benar tidak menyangka Qian mau dicium oleh setan Tae Sung! Ini salahku. Salahku memilih pacar yang seperti Qian. Yang tidak ada perlawanan sama sekali. Mungkin Lee Tae Sung benar. Aku harus berganti pacar. Pacar yang agak dewasa.
Malamnya...
Aku sekarang berada di kamar. Tidak belajar, tetapi memandangi layar handphone. Tepatnya memandangi nama kontak Song Qian.
Aku berencana memutuskan hubunganku dengan Qian. Lebih baik aku memutuskannya dari pada Qian menjadi boneka setan jelek Tae Sung. aku mulai mengetik pesan text untuk Qian :
Ke taman.
Tidak lama dia membalas text ku
Mm.
Hanya itu yang dia kirim. Mungkin dia tahu hal yang dia tidak bayangkan akan terjadi nanti. Aku segera keluar rumah , dan menuju taman perumahan.
Setelah aku keluar rumah, aku langsung melihat ke arah taman perumahan. Aku melihat siluet yang aku yakin itu Qian. Dia menunduk dan menggoyang-goyangkan kakinya ke depan ke belakang. Sesekali dia melihat ke atas, ke langit yang agak mendung. Aku sengaja tidak langsung kesana. Aku belum bisa memutuskannya. Aku khawatir dia akan sakit hati dan --- terluka.
Aku mulai berjalan kesana. Berjalan dengan perlahan. Aku menahan nafasku karena takut kalau-kalau dia tahu aku memperhatikannya dari tadi.
Sampai di taman, aku langsung duduk di sampingnya dan menoleh ke arahnya. Dia juga menoleh ke arahku dan tersenyum, lalu tertunduk lagi.
“Qian-aa, aku—“ kataku tercekat.
“Em?” Qian sama sekali tidak menoleh ke arahku.
“Kau sangat bodoh tadi,” aku langsung mengucapkan kata-kata pedas kepadanya.
“Ne—aku memang pabo,” katanya masih tertunduk.
“Apa kau sudah marah kepadaku? Harusnya aku yang marah—“
“Kamu lakukan apa yang bersalah kepadaku? Aniyya. Tidak ada.”
“Qian-aa—“
“Nichkhun-aa. Memang, aku ini gadis yang terlalu polos untukmu. Gadis yang terlalu kekanak-kanakkan untukmu. Gadis yang—“
“Gadis yang mau dicium oleh Tae Sung tanpa perlawanan apapun.”
“Aku sudah melawan, Khun!” dia tidak lagi memanggilku dengan ‘Khunnie’.
“Nah, itu dia. Satu lagi. Kau tidak bisa melawan. Hanya—“
“Hanya bergantung denganmu. Aku gadis yang hanya bisa mengandalkanmu, Khun. Aku tau.”
Aku melihat langit malam ini memang mendung. Sesuai dengan suasana hatiku yang lebur.
“Nichkhun-aa. Lebih baik kita putus,” kata Qian tiba-tiba.
Dia berdiri. Aku ikut berdiri, “MWO?!”.
“Wae? Bukankah ini jawaban yang jelas untuk kita, Khun?” katanya sambil menatap mataku dalam-dalam.
Aku kaku. Gugup. Takut. Matanya benar-benar berasa mengancamku. Benar-benar menuduhku.
Qian meninggalkanku sendirian di taman ini. Dengan langkahnya yang kecil-kecil, lambat tapi pasti. Aku kaget dengan barusan yang dilontarkan Qian.
Nichkhun POV end
Eun Jung POV
Malam ini, aku sudah sampai di bandara di Seoul. Banyak orang dengan kertas nama menunggu disini. Aku segera mencari namaku di sekitar sana.
“Ham Eun Jung eonni!” seseorang memanggilku dan sepertinya aku kenal suara ini.
Aku menoleh ke samping, dan menemukan siluet yang membuatku lega. Park Ji Yeon. Sobat lamaku yang lebih muda 1 tahun dariku. Dia yang menyelamatkanku sekarang. Fuuh sangat lega. Dia tampak datang dengan ayah ibunya.
Segera aku mendekat ke arah mereka yang tersenyum kepadaku. Mereka menyambutku dengan hangat dan langsung membawaku ke parkiran mobil.
“Eun Jung eonni. Aku seneng banget kamu bakal nginep dirumahkuu!” kata Ji Yeon.
“Wae? Haha—“ aku tertawa kecil melihat tingkahnya.
“Ya, kamu bakal mengajariku pelajaran SMA yang sekarang susah-susah. Aku masuk Daebak, lho!”
“Hoho.. Daebak yang mendunia itu? Wuaa.. tidak menyangka.”
“Aku juga tidak menyangkanya. Eonni, aku menemukan pangeran yang cocok untukmu.”
“Hah?” aku benar-benar kaget, “..maksudnya?”
“Aku punya temen, namanya Nichkhun Buck Horvejkul. Thai Prince loh. Dan eonni kan Japan Princess.”
“Fuh! Kalo kamu.. Choi Min Woo, ya?” aku menebak-nebak siapa yang ditaksir Ji Yeon.
“MWO? Eon—eonni tau dari mana?” Ji Yeon membulatkan matanya.
“Tweet!”
“Hehe—tapi sebenernya bukan Min Woo. Tapi Minho..”
“Eih?” ternyata aku salah sebut.
Eun Jung POV end
___
Esoknyaa....
Author POV
Ham Eun Jung sudah mendaftar Daebak 3 hari yang lalu. Dan dua sudah dipesankan seragam untuk kelas 2 oleh orang tua Ji Yeon. Sekarang dia sudah ada di perjalanan bersama Ji Yeon yang adalah adik kelasnya. Ji Yeon kelas 1-8.
Park Ji Yeon dan Ham Eun Jung sudah seperti saudara. Ayah Eun Jung adalah karibnya ayah Ji Yeon. Ayah mereka sama-sama masuk militer. Sama-sama bertugas di tempat, waktu yang sama. Maka dari itu, Ji Yeon dan Eun Jung bersama dari kecil.
Di mata Ji Yeon, Eun Jung adalah kakaknya yang dapat menjadi teladan yang baik. Menurutnya, Eun Jung itu gadis yang tidak banyak bicara, namun suka bergaul. Gampang dekat dengan orang-orang.
Di mata Eun Jung, Ji Yeon adalah adiknya yang lucu dan asyik. Ji Yeon adalah anak yang suka bergantung, namun jujur dan apa adanya. Ji Yeon selalu membutuhkan bantuan orang lain. Karena Ji Yeon terus berpikir bahwa pekerjaan yang dia lakukan sendiri pasti tidak beres.
Mereka sudah sampai di Daebak sekarang. Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam kelas masing-masing.
Eun Jung masuk kelas 2-4. Kelas istimewa, tempatnya anak-anak cerdas dan berpengetahuan luas. Di kelas 2-4 banyak anak-anak luar negeri, seperti Australia, Amerika, dan Jepang. Salah satunya Eun Jung sendiri.
Author POV end
Eun Jung POV
Aku masuk ke kelasku, kelas 2-4. Aku menemukan banyak manusia-manusia berambut pirang dan bermata biru disini. Hanya beberapa biji yang berambut hitam, bermata hitam atau cokelat. Setelah melihat ke sekitar kelas, aku duduk di bangku yang paling belakang.
Saat aku duduk, tiba-tiba 2 orang anak mendekatiku. Anak Jepang asli kurasa.
“Hello! Kamu orang Korea asli, ya?” tanya salah satu gadis.
“Ne—wae?” aku merasa sedang diinterogasi.
Mereka tertawa keras. Sejenak kelas yang tadinya ricuh menjadi sepi. Mata-mata semua tertuju kepadaku yang duduk tegak.
Agak lama duo heboh tertawa. Mungkin mereka menertawakan logat Jepangku yang sedikit logat desa? Atau menertawakanku karena aku orang Korea asli?
“Hey! Sepertinya kau sudah lama berada di Jepang, ya?” tanya yang satunya lagi.
“Emm..,” aku memperhatikan duo heboh ini.
Duo heboh ini terdiri dari dua anak perempuan yang sangat berbeda. Yang pertama kukira dia adalah orang Perancis. Karena bahasa koreanya belum terlalu fasih dan terdengar seperti bahasa Perancis. Rambutnya cokelat, sebahu dan keriting. Wajahnya penuh bintik-bintik merah. Matanya biru asli dan hidungnya mancung.
Yang kedua mungkin asli Jepang. Karena matanya yang terlihat sipit dan ujung matanya sedikit ke atas. Kulitnya putih. Matanya mengenakan soft lense berwarna abu-abu. Yah, walaupun tidak terlihat saking sipitnya. Rambutnya panjang, bergelombang dan tergerai.
“Perkenalkan, I am Lisa. Lisa Jours. Asli Perancis,” kata yang bermata biru. Tebakanku benar.
“Perkenalkan, aku Kayo. Kayo Hirogawa. Blasteran Jepang-Cina,” kata yang ber-soft lens abu-abu. Tebakanku sedikit meleset.
“Ne, aku Ham Eun Jung asli Korea. Tapi aku sudah lama di Jepang,” aku berusha seramah mungkin.
Suasana kelas kembali ribut dan duo heboh ini mulai menjadi teman baruku.
Eun Jung POV
Minho POV
Aku masuk ke kelas dan mendapati Qian sedang dikerumuni beberapa anak perempuan. Aku meletakkan tas di tempat duduk di sebelah Qian karena itu tempat dudukku setelah diatur.
“... kamu mutusiin Thai Prince?’ teriak salah satu dari anak perempuan di kerumunan.
“Nichkhun maksudmu?” tanya yang lain.
“Ya. Memang kenapa? Sudah jalannya,” kata Qian lemas.
Aku bingung. Qian dan Nichkhun putus? Padahal mereka adalah pasngan yang sangat cocok dan romantis. Aku segera menuju kelas Nichkhun.
Setelah berada di depan kelas 1-6, aku mendengar Jin AH dan You Jin sedang membicarakan Nickhun dan Qian. Aku mendekati mereka berdua. Dan mereka berdua tampak kaget dengan kedatanganku.
“Minho-yya? Hehe... kenapa? Mencariku?” tanya You Jin.
“Aniyya. Aku mau tanya sesuatu,” kataku.
You Jin tampak kecewa. Dia merengut. Sementara itu Jin Ah berdiri dan tersenyum manis kepadaku.
“Wae?” katanya sambil masih tersenyum.
“Kau sudah tau tentang—“ aku mendelik ke arah Nichkhun yang kebetulan mengacuhkanku. Barusan lewat.
“Ne! Aku tauuu! Aku tauuu! Ini emas!” kata Jin Ah kegirangan.
You Jin dan aku menatap Jin Ah aneh. Dia memang kembali seperti dulu. Tapi—ini berlebihan.
“Kamu.. kamu sangat mengharapkan Nichkhun putus ya?” tanya You Jin.
Jin Ah dengan pedenya manggut-manggut.
“Wa—wae?” You Jin penasaran.
“Aku jatuh cintaaa pada Khyeowo!” Jin Ah lompat-lompat.
“EIH?” You Jin kaget.
“Wae? Dia ‘kan sangat imut dan cool. Kamu enggak normal kalo enggak suka sama diaa.”
“Tapi ‘kan enggak segitunya kali.”
Aku hanya melihat secara langsung perdebatan kedua karib ini. Di sela-sela perdebatan, Nichkhun lewat dengan kunci motor yang berputar-putar di jarinya. Dia lewat bersama dengan iblisnya anak bejad, Lee Tae Sung. benar-benar beda dengan Nichkhun yang disebut ‘imut’ oleh Jin Ah.
“Kau lihat? Dia imut apanya? Dia berteman dengan—“ kata You Jin yang langsung terputus setelah ku tarik lengannya.
“Orang jatuh cinta terkadang memang gila sepertinya,” aku berkata sambil melirik ke arah Jin AH yang memandangi Nichkhun sampai masuk kelas.
Sebenarnya aku keberatan Nichkhun putus dengan Qian, karena bisa saja Nichkhun memilih Jin Ah sebagai gantinya Qian. Dan bisa saja, aku tidak berkesempatan memiliki Jin Ah.
Minho POV
Author POV
Lusanya...
Nichkhun tampak memarkirkan motornya di rumah di depan SMA Daebak. Dia sudah melanggar peraturan yang sanksinya masih enteng. Dia pernah diajak Tae Sung untuk merokok. Tetapi dia masih pikir-pikir.
Dengan helm yang masih ia pakai di kepala, bersama Tae Sung dia masuk kelas. Lalu keluar lagi. Sekilas ia melihat Jin Ah memandanginya dari dalam kelas 1-6. Tetapi dia berusaha untuk pura-pura tidak tahu. Karena baginya saat ini adalah ‘menembak’ kakak kelas bernama Ham Eun Jung yang adalah anak baru kelas 2-4.
Dia ditantang oleh Tae Sung untuk memacari Eun Jung yang kini super eksis dan jadi favorit di sekolah karena kecantikan dan kepribadiannya. Sebelumnya, dia berkenalan dengan Park Ji Yeon yang setahunya adalah karib dekat dan serumah dengan Eun Jung.
“Park Ji Yeon!” panggilnya.
“Ne-?” Ji Yeon menoleh ke belakang.
Nichkhun dan Tae Sung mendekati Ji Yeon dan tersenyum. Lalu, Nichkhun meminta nomor Handphone dan username Twitter Eun Jung. Ji Yeon dengan enteng memberikannya dan Nichkhun pun berlalu.
Author POV end
Eun Jung POV
Aku sedang berada di luar kelas pagi ini. Aku bersama dengan Kayo dan Lisa duduk-duduk membicarakan adik kelas yang beritanya akan menembakku.
“Itu lohh.. anak yang cool. Yang Thai Prince!” kata Lisa.
Aku berpikir sejenak. Kayaknya, aku pernah mendengar istilah Thai Prince.
“Aku juga tidak menyangkanya. Eonni, aku menemukan pangeran yang cocok untukmu.”
“Hah?” aku benar-benar kaget, “..maksudnya?”
“Aku punya temen, namanya Nichkhun Buck Horvejkul. Thai Prince loh. Dan eonni kan Japan Princess.”
Aku ingat yang dikatakan Ji Yeon malam itu.
“Nickhun Buck maksudmu?” tanyaku.
Lisa dan Kayo manggut-manggut. Tiba-tiba, Nichkhun dengan temannya, Tae Sung sudah ada di depan kelasku. Mungkin mencariku. Memang, kemarin dia mengirim pesan text kepadaku. Dia minta berkenalan, dan aku berkenalan dengannya. Wajahnya memang tampan, dan aku menyukainya. Hehe—
Setelah itu, Ji Yeon dengan anak-anak kelas 1 dan 2 yang lainnya membuat lingkaran di depan kelasku. Ji Yeon keluar dari lingkaran dan mengajakku ke tengah lingkaran. Aku menurut dan berdiri di tengah-tengah lingkaran.
Masuklah Nichkhun ke dalam lingkaran yang Ji Yeon dan kawan-kawannya buat. Segera, Ji Yeon memberi aba-aba untuk menyanyi. Ternyata, ini adalah grup vokal terbaik di Daebak. Nichkhun tampak tersenyum kepadaku setelah dia berdiri di depanku.
“Ham Eun Jung. Kau terlalu imut apabila kupanggil ‘noona’. Jadi, aku panggil kamu Eun Jung saja, oke?” Nichkhun mengedipkan sebelah matanya dengan sangat imut.
Tidak terasa aku membalas kedipannya dengan senyumku. Hatiku meleleh karena kedipannya tadi. Yakin, sungguh, dia memang tampan, cool, dan lucu.
“Mau ‘kan jadi pacarku?” dia berlutut di depanku dengan menyerahkan sekuntum bunga mawar putih yang memang aku suka dari dulu.
“YA! Eh...,” aku malah langsung menjawab ‘ya’. Aduhh..
Nickhun tersenyum dengan sangat manis. Aku sangat gemas.
Semua anak-anak yang menonton peristiwa ini bertepuk tangan dan berteriak-teriak. Riuh. Seperti suasana hatiku kini. Seorang Thai Prince ternyata menyukaiku dan mengungkapkannya dengan berani.
Eun Jung POV end
Author POV
Pulangnya..
Eun Jung dan Nichkhun jalan berdua menuju parkiran motor dimana, Nichkhun memarkirkan motornya tadi pagi. Dan pemandangan ini disaksikan oleh You Jin dan Jin Ah.
“Lihat, Jin Ah. Dia playboy!” jerit You Jin.
Jin Ah segera menutup mulut You Jin dengan tangannya. Lalu melepaskannya dan mengelap tangannya dengan jaket yang dikenakan You Jin sambil terus memperhatikan Nichkhun dan Eun Jung.
“Ih.. jorok!” kata You Jin.
Jin Ah menelan ludah saat Nichkhun merangkul Eun Jung dengan mesra.
“A—aku pulang ya. Dah!” Jin Ah meraih stang sepedanya yang ada di sebelahnya lalu menaikinya.
Jin Ah dengan segera mengayuh sepedanya untuk pulang. Suasana hatinya tidak enak karena masih memikirkan Nichkhun dan Eun Jung. Ini cinta ya, Bu? Tanyanya dalam hati. Seolah-olah ibunya sedang berada di sampingnya. Menungguinya sampai rumah.
Tiba-tiba sebuah motor ber-plat C10 mencegatnya dari depan. Dan dengan tiba-tiba juga ia mengerem. Dia tahu siapa itu. Choi Minho.
Author POV end
Minho POV
Sepulang sekolah, aku melihat Nichkhun bersama Eun Jung noona *enggak ikhlas* berjalan dengan santai menuju markas anak-anak geng hitam. Sekilas aku juga melihat You Jin dan Jin Ah yang terus memandangi mereka berdua.
Aku ingin sekali menghampiri Jin Ah. Memberi kekuatan mungkin. Tetapi, dia sudah terlanjur pulang dengan sepedanya. Aku segera melompat ke motor kesayangan yang kuparkir di kafe terdekat dan mengejar Jin Ah. Khawatir apabila dia broken.
Broken karena setelah ditinggal mati ibunya, ia jatuh cinta. Lalu dia mengetahui kalau orang yang dia sukai memiliki pacar. Lalu orang itu putus dengan pacarnya. Selang berapa hari, orang yang ia sukai berpacaran dengan orang lain di depan matanya. Perasaannya sedang dipermainkan.
Aku tahu persis perasaan Jin Ah karena aku- aku.. ya, karena aku tahu persis. Aku mengenalnya dari dulu, dan memahaminya dari dulu.
Aku mencegat Jin Ah tepat di depannya. Mungkin lewat plat nomor motorku dia tahu kalau ini aku. Dia hanya menunjuk raut muka yang biasa saja. Lebih tepatnya lagi, raut muka yang dipaksakan biasa saja. Sebenarnya dia sedang menangis.
“Minho-yya. Wae?” suaranya sedikit berat dan bergetar.
Aku melepas helm dan tersenyum kepadanya, “Tidak apa-apa. Hanya ingin melihatmu dari dekat.”
Dia manggut-manggut. Lalu tersenyum. Dia hendak mengayuh sepedanya lagi. Tetapi aku membuka mulut, seolah-olah memberi isyarat kepadanya untuk jangan pergi dulu.
“Kamu—enggak apa-apa, ‘kan?” tanyaku.
Dia tampak mencerna perkataanku. Dia mengernyitkan dahi, “Mm.. enggak apa-apa kenapa?” dia pura-pura tidak tahu.
Aku melongo, “Ah.. oh, enggak apa-apa. Yaudah, lanjut!” aku memakai helm-ku lagi.
Jin Ah kupersilahkan terlebih dahulu. Aku menjaganya dari belakang.
Minho POV end
Jin Ah POV
Malam di rumahku kini sangat sepi. Yah, kakak sedang menonton film roman di ruang keluarga. Nah, kalo begini, dia memang anteng. Diem. Ayah sedang di kantor. Kerjaannya banyak, jadi lembur sampai besok pagi.
Aku sendiri sedang di kamarku. Entah kenapa, aku masih memikirkan Nichkhun dan Eun Jung eonni. Aku juga merasa kasihan dengan Qian. Baru saja beberapa hari putus, mantan sudah bisa melupakan dan cari pacar lagi.
Aku tengkurap di kasur. Memerhatikan sms dari Kim You Jin dan Bae Sue Ji barusan. Kata Kim You Jin :
Im Jin Ah sayang, aku kira kamu tau aku temenmu dari dulu. Aku tau perasaanmu. Kalo memang kamu sanggup ngelupain, ya lupain aja. Tapi, kalo memang enggak bisa, ya itu mungkin siksaanmu.
Agak terhibur dan agak merinding ketika ngeliat sms dari You Jin di atas. Dan dari Sue Ji kayak gini :
Terserah deh. Khyeowo mulu dari berabad-abad.
Enggak cukup menghibur. Malah terkesan ngomelin.
Aduh, tiba-tiba punggungku sakit. Aku segera berganti posisi. Dari tengkurap menjadi telentang. Aku melihat ke langit-langit. Masih terbayang-bayang wajah Nichkhun. Aku berencana untuk melupakan manusia imut itu.
Aku akan menutup mataku. Sama seperti aku akan menutup perasaanku kepada Nichkhun. Akhirnya aku menutup mata. Aku mengingat semua memori tentang aku dan dia yang enggak terlalu banyak, tapi mengena.
Flash back
Kim You Jin menghampiriku saat Minho selesai memarkirkan motornya. Aku dan Kim You Jin berpelukan. Setelah itu, aku perkenalkan You Jin dengan Minho.
“You Jin, ini Minho. Minho, You Jin,” kataku kepada keduanya.
Mereka berdua bersalaman. Bersamaan dengan datangnya seseorang yang aku tidak kenal. Seorang anak lelaki tampan yang merangkul Minho. Senyumnya membuatku tertarik. Sumpah, senyumnya manis. Matanya sipit, hampir bersentuhan dengan poninya yang berwarna coklat keemasan.
“Hello, Minho-yya!” kata orang tadi, merangkul Minho.
Minho terkejut dan menoleh ke samping. Dia tersenyum lebar.
“Hi, Horvejkul!” seru Minho menjitak kepala seseorang yang ia sebut Horvejkul.
“Hor—horpec.. apa?” You Jin kebingungan. Aduh, dia malu-maluin.
“Horvejkul. Nama lengkapnya Nichkhun Buck Horvejkul,” Minho menjelaskan.
Aku manggut-manggut sendiri dan melirik ke arah seseorang bernama Horvejkul tadi.
“You Jin, Jin Ah.. ini adalah Horvejkul tungsaeng, dan—“ kata-kata Minho terputus setelah mendapat tepukan keras di punggungnya dari Horvejkul.
“Appa—“ rintih Minho.
“Memangnya aku siapa? Kau panggil aku tungsaeng?” tanya Horvejkul.
Minho hanya mengusap-usap punggungnya. You Jin hendak bertanya. Namun aku injak kakinya. Karena aku tahu, pasti dia tanya yang tidak-tidak.
“Panggil saja aku Nichkhun—“ kata Horvejkul. Maaf, namanya sekarang ganti. Jadi Nichkhun.
“Atau boleh panggil Khunnie,” lanjut Minho yang disambut dengan tepukan di punggungnya lagi.
Ah, imut sekali namanya. Khunnie? Kyuu... imut sekali. Cocok untuk tipe wajah seperti Nichkhun. Mata sipit, alis tebal. Aku semakin tertarik dengan Nichkhun.
“Khunnie adalah panggilan yang diciptakan oleh Qian tauk!” kata Nichkhun.
“Qian? Siapa Qian?” tanya You Jin penasaran.
“Haha.. Qian, Song Qian adalah pacarnyaa-“ kata Minho enteng.
Krek.. dia sudah punya pacar? Tuhaann.. kenapa harus punya pacar sih?
Aku hanya melihat reaksi Nichkhun yang kelihatan sangat percaya diri dengan apa yang dikatakan Minho. Dengan tidak sengaja aku melihat matanya sangat bersinar-sinar. Mirip mata anak kucing. Tiba-tiba dia melihat ke arahku. Aku cepat-cepat membuang pandanganku.
Uh.. mataku panas dan berair. Tenggorokanku terasa sakit, dan aku mulai menangis. Menangis tanpa suara. Berusaha melupakan si manusia imut tadi. Ibu, bantu aku melupakannya..
Jin Ah POV end
Author POV
1 tahun berlalu. Sekarang Daebak sudah memiliki pelajar kelas 1 baru lagi. Dan yang tadinya kelas 1, menjadi kelas 2. Otomatis. Kelas 1-6 yang dulu, berkumpul di depan kelas 2-6, menunggu wali kelas mereka datang membagikan secarik kertas berisikan masuk kelas 2 apa.
Kim You Jin terlihat khawatir karena Jin Ah belum nampak batang hidungnya. Menjinjit, lalu melompat-lompat. Mencoba melihat ke arah jalan dari kerumunan anak-anak calon kelas 2 ini.
“Kenapa Jin Ah tidak datang-datang??” You Jin masih melompat-lompat.
Sue Ji yang tahu You Jin sedang cemas menunggui Jin Ah, segera keluar dari kerumunan dan menghampiri You Jin.
“Im Jin Ah, ya?” tanya Sue Ji tanpa mimik khawatir.
You Jin mengangguk-ngangguk.
“Anaknya disitu!” kata Sue Ji sambil menunjuk-nunjuk ke arah kerumunan.
“Hah?” You Jin tidak mendengar perkataan Sue Ji tadi. Kerumunan anak-anak calon kelas 3 baru saja lewat dengan sangat ribut.
“Anaknya disitu!!” Sue Ji kembali menunjuk-nunjuk ke arah kerumunan.
“Apah?” You Jin masih belum dengar.
“ANAKNYA DISITU!!!” Sue Ji mulai emosi.
You Jin terdiam dan tersenyum. Lalu menunjuk-nunjuk ke arah kerumunan yang tadi ditunjuk-tunjuk Sue Ji. Memang Jin Ah sedang terjebak disitu. Di kerumunan anak-anak calon kelas 3.
“Nah, itu Im Jin Ah!” You Jin kembali riang.
Bae Sue Ji memiringkan mulut dan ngeloyor dari situ. Enggak lagi-lagi ngomong sama orang budeg. Karena itu hanya membuat ngos-ngosan dan emosi.
Im Jin Ah yang ngerasa ditunjuk-tunjuk You Jin, segera melambai-lambaikan tangan dan berusaha keluar dari kerumunan. Dengan susah payah, dia keluar dan menghampiri Kim You Jin.
“You Jin-aa! Kira-kira aku kelas 2 apa, ya?” tanya Jin Ah begitu sampai di gerombolan anak-anak calon kelas 2.
“Aku sih.. maunya kita sekelas,” kata You Jin sambil melipat tangannya di dada.
“Fuh! Bosen! Udah 7 taun bareng masa mau bareng lagi?”
You Jin memonyongkan mulut dan memilih bungkam. Daripada harus berdebat dengan manusia nyebelin kayak Jin Ah.
“Kalo bisa.. aku mau sekelas sama—“ kata Jin Ah yang terusannya enggak bisa diterusin. Karena dia melihat Nichkhun dengan Tae Sung, bersama dengan geng hitam bejad lewat di depannya dan di depan You Jin.
“Khyeowo?” mata You Jin mengekori Nichkhun dahulu sebelum mengucapkan nama samaran untuk Nichkhun yang diciptakan Jin Ah sendiri, “..yya! kamu belum bisa ngelupain ternyata.”
“Abiss.. susah. Kata Ju Hwan oppa kalo mau ngelupain seseorang harus move on duluu. Tapi move on ke siapa coba? Ga ada yang bikin aku terpikat kecuali Khyeowo!”
“Halah! Ju Hwan oppa itu penipu! Enggak usah percaya. Tinggal ngelupain segitu doang apa susahnya?”
“SUSAH!”
“ENGGAK!”
“SUSAH!!”
Untuk kedua kalinya, You Jin memilih bungkam.
“Pokoknya aku mau sekelas sama Khyeowo, Tuhann!” Jin Ah berharap.
“Kalo sampe kamu sekelas sama Khyeowo, berarti kamu jodoh beneran sama dia!” You Jin ngawur.
“Ameen.”
You Jin bungkam lagi.
“T-tapi.. kalo aku lebih nyaman enggak sekelas deh. Tuhan, aku enggak jadi mau sekelas sama Khyeowo.”
“Napa?”
Tidak lama, wali kelas mereka masuk ke kelas 2-6 dan secara otomatis, anak-anak mantan kelas 1-6 masuk ke kelas 2-6.
Author POV end
Jin Ah POV
Sekarang, aku sudah berada di depan kelasku. Maksudnya, kelas baruku. Aku ternyata masuk kelas 2-2. Kelas yang dulu adalah kelas kebanggaan. Kelas paling top yang anak-anaknya kebanyakan anak-anak eksis dan favorit.
Aku melihat You Jin berlari-lari menuju ke arahku. Aku sudah menduga, pasti dia sekelas denganku. Mimik wajahnya menunjukkan kebahagiaan yang melebihi dari kebahagiaannya seandainya dia dipersunting Justin Bieber.
“JIN AH-YAA! AKU SEKELAS DENGANMUUU! 2-2!” You Jin melompat-lompat.
“Masa?” aku merebut kertas yang berada di tangannya. Kertas yang udah kucel.
Aku membacanya. Isi kertasnya You Jin diterima di Grade 2-2
“Tuh kaan.. berarti permintaanku terkabulkan.”kata You Jin merebut lagi kertas yang aku pegang.
“Hemm.. iya iya. Tinggal permintaanku nih.”
“Sekelas sama Khyeowo?”
“Mm..”
Aku melihat Choi Minho sedang berjalan menuju ke arah kami. Menuju ke arahku dan You Jin. Dia menunjukkan kertas yang ia pegang. Dan.. dia masuk kelas yang sama dengan kami. Grade 2-2.
Dan aku melihat Nichkhun merangkul Minho dengan kasar. Dia sekilas tersenyum kepadaku dan You Jin lalu memperlihatkan kertasnya. Dia—
“SEKELAS?” You Jin keceplosan.
“Yup. Sekelas sama kamu. Sama Jin Ah. Sama Minho. Dan sama Qian. GRADE 2-2!” kata Nichkhun dengan sangat senang.
Aku masih melongo dibuatnya. Aku? Aku sekelas dengan Nichkhun? Bagaimana ini? Pasti dia akan segera tau bahwa aku menyukainya dari dulu. Pasti Eun Jung eonni akan tau juga. Dan pasti.. itu akan terjadi, kalo aku sekelas sama Nichkhun. Sama-sama di Grade 2-2.
Part 2 end
Kamis, 22 Maret 2012
Grade 2-2 Part 1
Title : Grade 2-2 (2-2 학년) Part 1
Rating : K-15
Genre : Romance, School, Comedy
Main Cast :
o Nana After School = Im Jin Ah
o Nichkhun = Nichkhun Horvejkul
o Minho = Choi Min Ho
o Eun Jung = Ham Eun Jung
Cast :
o Ji Yeon = Park Ji Yeon
o Suzy Miss A = Bae Sue Ji
o Wooyoung = Jang Woo Young
o Victoria Song = Song Qian
o Yoo Seung Ho = Yoo Seung Ho
Other Cast :
· Im Ju Hwan=IM Ju Hwan oppa
· Uee After School =Kim You Jin
Soundtrack :
· Love Love Love – Epik High
· I Can’t – 2PM
· Falling – Park Jin Young
· Is This Love – BoA
· Jalhalgeyo – Brown Eyed Girls
· Fallin’ – BoA
· My Angel – Fly To The Sky
· Mot Gah – Brown Eyed Girls
Keluarga Im sedang berkumpul di ruang makan. Mereka tertawa dengan lepas atas lelucon yang diberikan si ayah dan si kakak Im Ju Hwan. Tampak Im Jin Ah juga tertawa karena lelucon yang diberikan dengan memegang erat semangkok penuh nasi.
“Yya! Apa kau tetap makan semangkok itu?” tanya Im Ju Hwan tidak percaya sambil menunjuk-nunjuk mangkok yang dipegang Im Jin Ah.
“Wae? Apa tidak boleh? Aku sudah jatuh cinta dengan nasi!” kata Jin Ah sambil melahap satu sendok nasi.
“Yya-yya-yya! Kau mau menjadi gendut, ya? Bagaimana kalau kau tidak di taksir oleh anak-anak lelaki SMU Daebak?” kata si ibu.
“Apakah aku mau masuk SMA Daebak?” tanya Jin Ah berhenti mengunyah.
“Ne- kau pantas disitu. Apa tidak bisa? Ini keinginan ibu,” kata si ibu.
“Iya, benar. Lagian apabila kau masuk Daebak aku akan memanggilmu adik tersayang,” kata Ju Hwan.
“Kau berkata seperti itu karena yakin dia tidak masuk Daebak?” tanya si ayah.
“Aku pasti bisa!” kata Jin Ah bersemangat.
Si ibu, si ayah, Ju Hwan mendekati Jin Ah,”Jadi...”
“Tapi, aku tidak mau masuk kesana,” kata Jin Ah melanjutkan makan.
“MWO??!” si ibu, si ayah, dan Im Ju Hwan pun kaget.
Im Jin Ah melihat ke arah ketiga keluarganya tadi dan pergi ke kamarnya.
___
Jin Ah POV
Aku menutup pintu dengan pelan setelah meninggalkan mangkuk nasi kesayanganku di ruang makan. Aku melihat handphone-ku yang berada di meja berkelip-kelip. Uh, ada pesan dari Kim You Jin.
Aku sudah mendaftar ke Daebak. Kau?
Yya! Apa-apaan dia menanyaiku seperti ini? Batinku. Aku membalasnya dengan sangat malas, karena aku membaca kata-kata Daebak disana.
Aku tidak mungkin masuk kesana. Kau gila! Balasku.
Tidak lama, handphoneku berkelap-kelip lagi. Ahh.. aku malas membacanya dan mematikan handphoneku, lalu membanting tubuhku ke ranjang.
Jin Ah POV end
Nichkhun POV
Aku sedang memindah-mindah channel TV karena acara kesukaan ibu sedang diseling iklan. Ibu juga sedang menerima tamu dengan ayah. Sewaktu sibuk memindah-mindah channel, handphone-ku berbunyi. Ada SMS dari pacarku, Song Qian.
Khunnie... kau sedang apaa? Tanyanya.
Aku cepat membalas : sedang menonton TV. Kau?
Aku sedang belajar untuk lusa masuk Daebak. Kau masuk Daebak ‘kan? Aku sangat merindukanmu.
Aku juga.
Dia tidak membalas lagi. Mungkin dia terlalu sibuk belajar.
Song Qian adalah anak perempuan yang di mataku sempurna. Kami sudah berpacaran selama 3 bulan. Baru saja 3 bulan yang lalu dia menjawab tembakanku. Padahal aku menembaknya 3 minggu sebelum dia menerimaku. Aneh.
Aku sangat suka anak perempuan yang aneh. Entah mengapa, anak perempuan yang aneh membuatku penasaran dan langsung jatuh cinta.
Qian adalah anak keturunan Korea-China. Ibunya China, ayahnya Korea. Dia juga ada darah Perancis. Kakek buyutnya adalah blasteran Perancis-China.
Tiba-tiba, ibu duduk di sebelahku dan mereubut remote dari tanganku.
“Kau... daftar ke Daebak saja,” kata ibuku sambil terus memindah channel.
“Iya, Bu. Song Qian juga mau kesana,” kataku.
Ibu terkejut.
“Kenapa bu?” tanyaku penasaran.
“Tidak. Itu bagus. Dia sangat ibu sukai. Memenuhi kriteria sebagai calon menantu.”
“Omma! Aku tidak akan menikah sebelum...”
“Sebelum?”
“Sebelum Yuh menikah.”
“YYA! Masa Yuh yang adalah adikmu disuruh menikah duluan?”
Kami bercanda dan tertawa hangat. Aku berdiri dari kursi dan mengambil handphoneku. Ada SMS lagi. Dari Song Qian :
Keluar rumah saja, Khunnie. Aku menunggumu di taman perumahan.
Memang, kami bertetangga. Tapi gang-nya beda.
Melihat SMS tadi, aku segera menjawab ‘ya’ dan langsung pamit ke taman menemui Qian.
Nichkhun POV end
Qian POV
Aku sudah berada di kursi taman perumahan setelah Khunnie menjawab iya. Aku duduk sambil menunggunya datang.
#NP : I Can’t – 2PM
Tiba-tiba seseorang menutup mataku dengan kedua tangannya yang hangat dari belakang. Aku sudah tahu dari aroma dan besar tangannya di wajahku. Itu Khunnie.
“Khunnie!” aku menyebut nama seseorang yang kuharapkan.
Orang tadi mengangkat tangannya dari wajahku dan duduk di sebelahku. Ya, dia Nichkhun Buck Horvejkul, orang yang sangat kucintai. Dia tersenyum kepadaku, lalu mencubit pipiku.
“Kau lama sekali,” kataku sambil menunduk. Aku malu.
“Yya, kau malu setelah kita berpacaran beberapa bulan yang lalu? Haha,” dia tertawa lepas.
“Apa yang kau bawa? Apakah aku mengganggumu?” kataku lagi, berusaha mengusir malu.
“Emm.. kau tidak mengganggu. Malah menghibur.”
Aku mengangguk dan tersenyum, lalu tertunduk lagi. Khunnie tampak mengeluarkan sesuatu dari bungkusan yang ia bawa. Lalu menyodorkan barang itu dekat wajahku.
“Ice Cream!” serunya dengan wajah berseri-seri.
Aku menerima pemberian Khunnie dengan mengucapkan terima kasih tentunya. Dia menyuruhku untuk segera memakan es krim yang barusan dia berikan kepadaku. Katanya, cepat meleleh. Aku menuruti perkataannya dan dengan diam memakan es krim tadi.
Suasana hening sejak dia mengatakan kata-kata ‘cepat meleleh’ tadi. Aku tidak tahu harus berkata apa jika seperti ini.
“Dulu... kau adalah gadis berantakkan yang ceria dan cerewet. Kau aneh. Kau-“ dia memecahkan keheningan.
“Aku? Aneh?” tanyaku.
“Nah, loh? Kau tidak tahu aku suka gadis aneh?”
“Tidak tahu.”
Hening lagi. Namun lagi-lagi Khunnie memecahkan keheningan yang sedang merayap di taman ini.
“Kau- cantik saat makan es krim,” katanya membuatku terkejut.
Aku hanya menoleh kepadanya dan tersenyum manis.
“Aku... mendaftar ke Daebak. Apa- kau mendaftar ke Daebak?” tanyaku.
“Emm..,” dia menjawab ‘ya’ dengan melihat ke atas. Ke langit.
#STP : I Can’t – 2PM
Qian POV end
___
Esoknya...
Jin Ah POV
“Naega che jallaga!” jeritku ketika menyapu teras.
Tiba-tiba Ju Hwan oppa menyundul kepalaku dengan jari telunjuknya yang diperban.
“OPPAA! Jarimu—jarimu?” aku memang panik ketika melihat perban. Perban apa saja.
“Diam! Aku terkena gigitan Jack!” dia menunjuk anjing tetangga. Anjing bulldog.
“Hanya segitu?”
Dia diam dan menyundul kepalaku dengan dua jari. Jari telunjuk dan tengah. Dua-duanya diperban.
“DUA JARI?” aku teriak lagi.
“Kau pantas menjadi rocker, tungsaeng! Kau berisik,” Ju Hwan oppa masuk sambil mengibas-ibaskan poninya.
Aku kembali menyapu dengan headset yang menyumbat kupingku. Lagu “I Am The Best” milik 2NE1 sudah menjadi sarapan pagi ini. Yah, lagunya sebentar lagi selesai. Aku melihat daftar lagu di handphoneku. Selanjutnya lagu 2NE1 Lonely.
Aku selesai menyapu dan hendak masuk rumah. Tapi kulihat lewat kace jendela Tuan Choi bersusah payah memanggilku. Aku melepas headsetku. Aku memang tadi mengesetnya kecil. Setelah menyapu mnegesetnya keras.
“Ada apa, Tuan Choi?” tanyaku.
“Kau... fyuh.. kau mau—mendaftar Daeb-bak?” tanyanya ngos-ngosan.
Aku heran,” Kau kenapa seperti itu?” tanyaku.
“Aku memanggilmu sejak kakakmu, Im Ju Hwan menjitakmu—“
“Dia tidak menjitakku. Tapi—“
“HALAH! Yang penting yang aku tanya kepadamu. Kau mau masuk Daebak tidak? Kau kan cerdas. Ini, aku ada formulirnya,” dia mengeluarkan secarik kertas dari tas lusuhnya.
Aku masih heran. Kenapa dia masih saja menawarkanku masuk Daebak?
“Ini dia,” dia menyerahkan kertas formulir yang masih bersih kepadaku.
Aku menerima formulir tadi, karena tidak enak apabila aku menolaknya sementara dia berusaha mengambilkannya untukku. Aku membaca satu per satu syarat untuk masuk ke sana.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Emm.. aku akan bilang ke ibu dulu. Kau?”
“Apanya?”
“Anakmu.. mendaftar Daebak?” tanyaku.
“Emm.. iya. Dia menginginkan masuk situ. Oh, iya. Aku masih banyak kerjaan di kantor. Salam untuk ibumu dan ayahmu.
“AKU TIDAK?” seru Ju Hwan oppa yang sedang gosok gigi di ambang pintu.
“TIDAK!” Tuan Choi lalu pergi dari teras rumahku dengan sepeda mahalnya.
Aku berbalik dan masuk rumah. Ju Hwan oppa masih di ambang pintu.
Setelah aku masuk, angin segar dari kipas angin yang berputarputar di langit-langit meniup rambutku yang terkucir dengan tidak rapi. Segar sekali rasanya. Aku menaruuh formulir di meja ruang keluarga dan langsung menuju dapur untuk mengambil minum.
Ketika aku minum, ibu lewat di belakangku sambil menyolek perut bagian samping. Aku tersedak, karena aku geli. Tetapi, tidak seperti biasanya. Wajah ibu sangat pucat. Banyak koyo di bagian pelipisnya. Mungkin dia pusing atau kecapekan.
“Omma—“ panggilku sambil menaruh gelas.
Ibu menoleh. Dia mengangkat alis.
“Kau sakit? Mana yang sakit?” aku berjalan menuju ibu.
Ibu berjalan keluar rumah sambil berkata ‘tidak’. Dia tidak seperti biasanya. Biasanya dia berjalan cepat dan dengan langkah yang lebar-lebar. Kali ini kebalikannya.
Ju Hwan oppa masuk setelah kumur-kumur di luar. Dia duduk di kursi ruang keluarga dan menyetel TV. Dia menonton channel kesukaannya. Tapi, kemudian dia menyentuh formulir yang tadi aku letakkan di meja di ruang keluarga.
“Apa ini?” tanyanya sambil membaca-baca isi formulir yang ia pegang.
Aku mendekati Ju Hwan oppa,”Hanya formulir ke Daebak.”
“BAGUS! Kau segera isi ini! Ppali!!” perintahnya sambil menyerahkan bolpoin hitam di dekatnya kepadaku.
“Aku tidak berniat masuk ke Daebak!” aku mengelak.
Ibu masuk dan tiba-tiba berada di sampingku. Berdiri dengan muka yang tanpa ekspresi.
“Kau—masuk saja ke Daebak. Ibu akan sangat senang apabila kau diterima disana,” ibu ternyata mendukung Ju Hwan oppa.
“T—tapi, uang SPP-nya sangat mahal dan pasti—“ kataku terputus.
“Masalah uang SPP, ayah yang mengurusnya. Kau tidak usah memikirkannya. Toh ini untuk pendidikanmu,” ayah keluar dari kamar membela ibu dan Ju Hwan oppa.
“Appa—“ aku tertegun dengan ayah yang biasanya patah semangat menjadi tidak patah semangat.
Ju Hwan oppa menyuruhku duduk di sampingnya dan mengisi formulir tadi. Lalu ibu duduk di sampingku. Di samping Ju Hwan oppa, ayah ikut duduk. Nah, loh. Kenapa coba ikut-ikutan duduk?
“Ibu—tidak akan hidup lama,” bisik ibu.
Seketika aku berhenti menulis. Semuanya menoleh kepada ibu.
“Yyobbo, apa yang kau katakan. Kata-kata adalah doa,” sahut ayahku.
Aku dan Ju Hwan oppa setuju.
“Aku hanya ingin—“ ibu terhenti, karena ia mulai batuk keras. Dia jatuh ke lantai. Terduduk lemas sambil masih menutupi mulutnya.
“Omma!” aku dan Ju Hwan oppa kaget dan mengangkat ibu untuk tiduran di kursi.
Ayah dengan gerakan cepatnya langsung mengambil obat di kamarnya dan kamar ibu. Lalu mengambil segelas air bening untuk ibu minum obat.
“Omma, kau sakit apa? Batukmu sangat parah!” Ju Hwan oppa panik.
Ibu melepaskan tangannya dari mulutnya. Tangannya.. berlumuran DARAH. Sumpah, aku benar-benar kaget. Ibu batuk dan mengeluarkan darah.
Seketika, aku menutup mulut karena kaget. Dan ayah yang berada di samping ibu juga kaget. Lalu ia cepat-cepat meminumkan obat ke ibu. Aku hampir menangis. Tapi, aku sangat benci menangis. Saat menangis aku menjadi sesak nafas.
“Ibu sakit apa?” tanyaku berusaha menahan tangis.
“Istriku, kau sakit apa? Kau tidak beritahu aku sebelumnya,” kata ayah.
Ibu diam, dia batuk kecil. Aku menahan nafas karena takut dia akan mengeluarkan darah lagi.
Jin Ah POV end
Minho POV
“Minho-yya!” panggil ayah dari lantai bawah.
“Iya,” aku menjawab lalu keluar kamar dan turun ke lantai bawah rumahku.
Setelah sampai di hadapannya, aku duduk di sampingnya.
“Ada apa, Ayah?” tanyaku.
“Kau mau ‘kan ayah masukkan Daebak?” tanya ayah.
“Aku mau. Memang kenapa?” tanyaku heran.
“Ti—tidak. Tidak kenapa-napa. Hanya ingin berkompromi denganmu.”
Aku mengangguk-angguk kecil. Aku memandang keluar rumah. Pintu rumah memang terbuka lebar. Karena ayah baru saja masuk.
“Ayah kenapa tidak pergi bekerja?” tanyaku sambil terus memandang keluar.
Ayah berdiri,”Oh, iya! Aku baru ingat! Ada yang harus aku lakukan. Nak, ayah ke kantor dulu. Untung saja kau mengingatkanku.”
Aku lalu memandang ayah yang sedang berjalan terburu-buru menuju ke kamar.
Aku Choi Min Ho. Seorang anak yang katanya naif. Aku lahir sebagai anak piatu yang tidak punya ibu. Aku juga adalah anak tunggal. Jadi, aku hanya tinggal bersama ayah di rumah yang katanya paling besar di perumahan ini.
Aku memandang keluar rumah lagi. Seorang anak perempuan dan laki-laki bersama ayah mereka membantu seorang ibu dengan sangat hati-hati. Sepertinya aku kenal.
“Im Jin Ah?” desisku sendirian.
Aku cepat-cepat menuju ke ambang pintu. Keluar rumah. Melihat Jin Ah dengan susah payah membantu ibunya ke suatu tempat. Kenapa dengan ibunya?
Aku berlari menuju mereka berempat. Setelah sampai disana, Jin Ah mengacuhkanku.
“Jin Ah-yya, aku bantu. Mau kemana?” tanyaku.
Tetapi Jin Ah hanya diam. Dia tidak menoleh kepadaku atau berinteraksi kepadaku sekalipun.
Mereka berempat lalu masuk ke klinik. Tetapi Jin Ah diam di tempat sementara ayah dan kakaknya masuk lebih dalam lagi membantu ibunya.
Aku mendekati Jin Ah. Jin Ah membelakangiku. Dia menutup mukanya. Rambutnya yang berantakkan membuatku ingin merapikannya. Aku baru saja akan meraih sehelai rambutnya, dia berbalik dan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
#NP : My Angel – Fly To The Sky (reff terakhir)
“Jin—Jin Ah-yya! Kamu.. kamu men—“ kataku tersendat-sendat.
“Omma! Nae Omma! Ibuku, Minho-yya. Ibuku—“ katanya setengah pelan.
Aku iba dan entah mengapa segera meraih tubuhnya dan memeluknya. Dan dia menangis dalam pelukanku. Belum pernah aku melihat Im Jin Ah yang sangat lemah dan rapuh. Dia menangis! Aku baru pernah melihatnya menangis. Dan baru pertama kali aku menyentuh seorang gadis.
Tiba-tiba jantungku terasa berhenti berdetak. Badanku kaku, sementara Jin Ah menangis sekeras-kerasnya.
Minho POV end
Nichkhun POV
#Still Playing : My Angel – Fly To The Sky (reff terakhir)
Sekarang, pagi ini, aku berolahraga di taman perumahan. Hari minggu adalah hari yang paling aku suka sepanjang hidup.
#STP : My Angel – Fly To The Sky
Saat aku berlari-lari kecil di sekeliling taman, Qian berdiri menghalangiku dengan berkacak pinggang. Aku menoleh kepadanya dan dia tersenyum manis. Aku segera mencubit pipinya.
“Auuh! Kau sangat menggemaskan!” seruku sambil mencubit pipinya.
Dia juga mencubit pipiku dengan halus. Saat dia mencubit pipiku, aku mencium pipinya yang barusan aku cubit.
“Pasti rasanya sakit apabila aku cubit. Itu obatnya,” kataku setelah menciumnya.
Dia hanya meraba-raba pipinya dan tersenyum malu. Dia menunduk.
“Qian-aa. Kamu masih malu?” aku tertawa halus. Dia lalu tersenyum tipis.
“Aku.. kan memang pemalu,” katanya.
Aku memandanginya kagum. Kagum karena kecantikan dan kelemah lembutannya. Dibalik keanehannya, ada sisi lembut yang tidak terduga yang terselip pada dirinya.
Tampak Qian menyeka keringat di dahinya. Aku tersenyum kecil dan mengambil saputangan di sakuku. Lalu menyeka keringatnya dengan saputanganku.
“Memang kau tidak membawa sapu tangan atau handuk?” tanyaku sengaja menggodanya.
“Ahh.. aku lupa—“ katanya.
“Lupa, atau sengaja ingin diseka olehku?” aku menggodanya lagi.
Dia mulai malu-malu lagi. Dia menyingkirkan tangan dan sapu tanganku dari dahinya. Dia menarik nafas, lalu menghembuskannya dengan keras.
“Oke. Sekarang aku adalah Qian yang tidak malu-malu lagi,” katanya berkacak pinggang dan menatapku dalam-dalam.
Baru pernah aku merasakan dalamnya tatapan seorang Song Qian. Dia benar-benar menatapku dengan kedua mata hitamnya. Bersinar-sinar. Dia tersenyum tidak seperti biasanya. Dia tersenyum seperti—seperti penuh kemenangan (?).
“Mm—mmm.. oke, kalo begitu. Kau pasti sudah bukan Qian yang pemalu lagi,” kataku. Senyumku mulai hilang. Dan aku lenyap dari situ.
Nichkhun POV end
Qian POV
“Oke. Sekarang aku adalah Qian yang tidak malu-malu lagi,” kataku berkacak pinggang dan menatap Khunnie dalam-dalam.
Mungkin Khunnie baru pernah merasakan tatapan dalam mataku. Karena aku menatapnya tidak seperti biasanya. Dengan tertunduk.
“Mm—mmm.. oke, kalo begitu. Kau pasti sudah bukan Qian yang pemalu lagi,” katanya. Senyumnya mulai hilang. Dan dia lenyap dari tempatnya berdiri.
Dia berlari setelah menggenggam kedua tanganku sejenak. Berlari ke arah berlawanan dariku. Aku masih di tempat. Berbalik. Melihat punggung Khunnie yang kelihatan hangat. Dia masih menghadap ke arahku. Aku melambaikan tangan.
Aku mulai berpikir. Khunnie mungkin tidak suka dengan gadis yang pemalu. Jadi, aku tidak akan menjadi seseorang yang pemalu. Akan kucoba menjadi Qian yang berbeda.
Aku mengikuti Khunnie yang berlari kecil. aku meraih lengannya dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
“Qian-aa,” dia memanggilku. Seakan tidak percaya apa yang aku lakukan sekarang.
“Emm?” aku memejamkan mata.
Khunnie tidak menjawab lagi. Dia menyandarkan kepalanya diatas kepalaku. Ya kan. Dia suka gadis yang tidak pemalu.
Qian POV end
Author POV
Pagi ini, tampak seorang gadis berambut pendek di balkon rumahnya. Dia memegang cangkir kopi sambil menikmati suasana pagi di perumahannya. Jauh dari Seoul. Jauh dari Korea Selatan. Dia tinggal di Jepang.
Namanya Ham Eun Jung. Dia adalah warga asli Korea Selatan. Tapi dia mengikuti orang tuanya untuk dinas.
Dia sekarang bukan menikmati pagi. Namun menikmati kebimbangan. Dia baru saja masuk SMA kelas 1. Tetapi, dia bosan dan ingin pindah sekolah. Sebenarnya keluarganya mampu untuk menyekolahkannya di luar negeri. Amerika misalnya. Namun, setelah ditawarkan akan pindah sekolah kemana, Eun Jung memilih Korea Selatan. Kampung halamannya.
“Eun Jung-aa,” panggil ibunya.
Eun Jung tidak menjawab namun dia segera meletakkan cangkirnya di meja dan berjalan santai mendekati ibunya.
“Ne, omma?” Eun Jung tersenyum kepada ibunya.
“Kau—benar benar akan pindah ke Korea besok?” tanya ibunya.
Eun Jung mengangguk.
“Sekarang segera bersiap.”
“Ibu—ikhlas aku pergi kesana?” tanya Eun Jung tidak yakin atas perintah ibunya.
Gantian ibu Eun Jung yang mengangguk.
Eun Jung segera menuju ke kamarnya. Tetapi, di depan kamarnya, dia berhenti sesaat. Dia memandangi sebuah foto.
“Appa. Aku akan pulang ke Seoul,” katanya setengah berbisik.
Tiba-tiba pembantunya yang bernama Kiyoshi keluar dari dapur. Dia tersenyum ke arah Eun Jung.
“Tolong jaga ibu baik-baik,” kata Eun Jung menepuk bahu Kiyoshi.
Kiyoshi mengangguk.
Author Pov end
Eun Jung Pov
“Appa. Aku akan pulang ke Seoul,” kataku setengah berbisik.
Tiba-tiba pembantuku yang bernama Kiyoshi keluar dari dapur. Dia tersenyum ke arahku.
“Tolong jaga ibu baik-baik,” kataku sambil menepuk bahu Kiyoshi.
Kiyoshi mengangguk.
Aku masuk ke kamar setelah Kiyoshi meninggalkan aku. Setelah masuk kamar, aku langsung menyambar koper besar berwarna coklat dan meletakkannya di atas kasur. Setelah itu, aku buka lemari bajuku dan menyambar semua pakaianku. Lalu menyambar buku-buku sekolahku. Dan semuanya yang merupakan milikku.
Tak lupa. Kamera kesayanganku yang telah menemaniku keliling Jepang. Ia akan kubawa untuk menyimpan memori di Seoul dan untuk membuatku teringat oleh Tokyo juga.
Barang-barang sudah siap untuk dibawa besok. Aku menutup pintu kamar dan segera masuk kamar mandi untuk mandi. Setelah mandi, aku berencana langsung tidur. Ibu pasti akan membangunkanku pagi-pagi sekali.
Eun Jung POV end
Author POV
Di klinik, Minho dan Jin Ah duduk di ruang tunggu. Jin Ah tertunduk, cemas akan keadaan ibunya. Sementara itu, Minho duduk dengan santai di sebelah Jin Ah. Minho sesekali melirik ke arah Jin Ah. Sesekali juga menarik nafas dan menghembuskan nafas dengan keras.
“Jika kau lelah, kau boleh pulang. Aku tidak mengharuskan kau menemaniku disini,” kata Jin Ah mengangkat kepalanya.
“A—aku tidak lelah. Hanya saja khawatir akan ibumu,” kata Minho.
“Mm.. ibuku telah membuatmu khawatir. Aku juga khawatir,” kata Jin Ah lagi.
Suasana sekarang hening. Jin Ah menyandarkan punggungnya di punggung kursi. Dia meluruskan kakinya melipat tangannya. Minho dengan santai meletakkan tangan di bawah kepalanya.
Tidak lama kemudian, ayah dan Im Ju Hwan muncul di ruang tunggu. Jin Ah dan Minho segera menghamipiri ayah dan Im Ju Hwan yang bermuka kusut.
“A—ada apa dengan ibu, Ayah?” tanya Jin Ah khawatir.
“D-dia sakit—“ kata ayah Jin Ah tidak bisa melanjutkan.
“Sakit apa, Om?” tanya Minho yang juga penasaran.
Jin Ah menanti-nanti jawaban ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“TBC. Kata dokter, dia tidak lama lagi—“ ayah mulai menangis.
Jin Ah hanya bisa melongo dan membelalakkan matanya. Dia meneteskan airmatanya. Dia tidak percaya apa yang dikatakan ayahnya barusan.
“TBC?” tanya Minho kurang percaya.
“Yap,” kata Ju Hwan ikut-ikutan lemas. Dia mulai duduk di kursi di ruang tunggu dengan lemas juga.
“Ib—ibu tidak pernah memberitahuku tentang ini, Yah,” kata Jin Ah sedikit serak.
“Kepadaku juga tidak, Jin Ah-yya,” kata ayah memeluk Jin Ah erat-erat.
Minho hanya bisa merasakan kepedihan yang mendalam yang dirasakan oleh Jin Ah sekeluarga. Dia hanya berdiri diam, melihat Jin Ah dan ayahnya yang luput dalam kesedihan.
“Om, bolehkah aku masuk menemui Nyonya Im?” tanya Minho.
Ayah Jin Ah melepaskan pelukannya dengan Jin Ah dan mengangguk pelan. Jin Ah langsung berjalan cepat menuju kamar ibunya. Diikuti oleh Minho dibelakangnya.
Setelah sampai di depan kamar, Jin Ah membuka pintu dengan sangat halus dan masuk secara perlahan. Dia menemukan ibunya tiduran di kasur klinik. Ibunya tersenyum kepadanya. Jin AH membalas senyuman ibunya dengan senyum yang paling manis yang pernah dia berikan seumur-umur.
“Jin Ah-yya,” panggil ibunya saat ia dan Minho duduk di samping tempat tidur.
Jin AH menggenggam erat tangan ibunya. Minho hanya dapat melihat. Minho melihat pemandangan yang sangat menyentuh hatinya.
“Omma-yya. Wae? Kenapa tidak memberitahuku?” Jin Ah hampir menangis.
Nyonya Im hanya diam. Jin Ah menangis.
“Jin Ah-yya. Apa kau mau mengabulkan permintaanku sebelum aku pergi?” tanya Nyonya Im.
Air mata Jin Ah bertamabah deras dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Aku minta kau sekolah di Daebak. Aku ingin kau bisa bersekolah disana. Daebak memang pantas untukmu. Jangan pikirkan uang sekolah. Pikirkan masa depanmu. Jangan menengok ke belakang,” kata Nyonya Im sesenggukan.
Mata Minho berkaca-kaca.
___
DAEBAK,,, oh DAEBAK. Tes masuk Daebak akan dimulai hari ini. Tampak SMA Daebak sangat sibuk mempersiapkan segalanya. Banyak sekali yang akan mendaftar sekolah favorit di Seoul dan di dunia juga.
Akhirnya Im Jin Ah pergi mendaftar juga ke Daebak. Bersama dengan Choi Minho, dia mendaftar di Daebak.
Jin AH POV
Aku sudah sampai di Daebak bersama Minho dengan motornya. Saat Minho memakirkan motornya, aku melihat siluet yang sangat aku kenal. Benar-benar aku kenal. Dia adalah...
“KIM YOU JIN!” panggilku berharap benar-benar Kim You Jin.
Orang yang aku panggil menengok ke arahku. Wah, ternyata benar You Jin. Feelingku memang sangat benar. Hanya melihat dari cara berjalan saja aku tahu.
Kim You Jin menghampiriku saat Minho selesai memarkirkan motornya. Aku dan Kim You Jin berpelukan. Setelah itu, aku perkenalkan You Jin dengan Minho.
“You Jin, ini Minho. Minho, You Jin,” kataku kepada keduanya.
Mereka berdua bersalaman. Bersamaan dengan datangnya seseorang yang aku tidak kenal. Seorang anak lelaki tampan yang merangkul Minho. Senyumnya membuatku tertarik. Sumpah, senyumnya manis. Matanya sipit, hampir bersentuhan dengan poninya yang berwarna coklat keemasan.
“Hello, Minho-yya!” kata orang tadi, merangkul Minho.
Minho terkejut dan menoleh ke samping. Dia tersenyum lebar.
“Hi, Horvejkul!” seru Minho menjitak kepala seseorang yang ia sebut Horvejkul.
“Hor—horpec.. apa?” You Jin kebingungan. Aduh, dia malu-maluin.
“Horvejkul. Nama lengkapnya Nichkhun Buck Horvejkul,” Minho menjelaskan.
Aku manggut-manggut sendiri dan melirik ke arah seseorang bernama Horvejkul tadi.
“You Jin, Jin Ah.. ini adalah Horvejkul tungsaeng, dan—“ kata-kata Minho terputus setelah mendapat tepukan keras di punggungnya dari Horvejkul.
“Appa—“ rintih Minho.
“Memangnya aku siapa? Kau panggil aku tungsaeng?” tanya Horvejkul.
Minho hanya mengusap-usap punggungnya. You Jin hendak bertanya. Namun aku injak kakinya. Karena aku tahu, pasti dia tanya yang tidak-tidak.
“Panggil saja aku Nichkhun—“ kata Horvejkul. Maaf, namanya sekarang ganti. Jadi Nichkhun.
“Atau boleh panggil Khunnie,” lanjut Minho yang disambut dengan tepukan di punggungnya lagi.
Ah, imut sekali namanya. Khunnie? Kyuu... imut sekali. Cocok untuk tipe wajah seperti Nichkhun. Mata sipit, alis tebal. Aku semakin tertarik dengan Nichkhun.
“Khunnie adalah panggilan yang diciptakan oleh Qian tauk!” kata Nichkhun.
“Qian? Siapa Qian?” tanya You Jin penasaran.
“Haha.. Qian, Song Qian adalah pacarnyaa-“ kata Minho enteng.
Krek.. dia sudah punya pacar? Tuhaann.. kenapa harus punya pacar sih?
Aku hanya melihat reaksi Nichkhun yang kelihatan sangat percaya diri dengan apa yang dikatakan Minho. Dengan tidak sengaja aku melihat matanya sangat bersinar-sinar. Mirip mata anak kucing. Tiba-tiba dia melihat ke arahku. Aku cepat-cepat membuang pandanganku.
Jin Ah POV end
Nichkhun POV
“Khunnie adalah panggilan yang diciptakan oleh Qian tauk!” kataku.
“Qian? Siapa Qian?” tanya You Jin tampak penasaran.
“Haha.. Qian, Song Qian adalah pacarnyaa-“ kata Minho enteng.
Aku tertawa ketika mendengar apa yang diucapkan Minho barusan. Tapi aku seperti tidak ingin semua orang tahu kalau Qian adalah pacarku.
Aku merasa diperhatikan. Ahh, ternyata Im Jin Ah memperhatikanku sejak tadi. Aku menangkap basah tatapannya. Aku melihatnya sedang melihatku dengan tatapan putus asanya tadi. Ketika aku melihatnya, dia hanya membuang pandangannya ke gerombolan anak-anak yang lain.
“Yuk masuk!” ajak Minho merangkulku,”kita ‘kan sekelas.”
“Tes? Sekelas denganmu?” aku kaget.
“Ruang berapa?” tanya You Jin yang mulai berjalan di depanku dan Minho. Dia berjalan beriringan dengan Im Jin Ah.
“Emm.. ruang 11. Kamu?” kataku berbarengan dengan Minho.
“Samaa. Kamu Jin Ah-yya?” tanya You Jin menghadap ke depan lagi.
Tidak lama kemudian, You Jin berteriak girang. Mungkin karena kami berempat sekelas. Kim You Jin mungkin anak yang cepat sekali bergaul. Baru saja tadi berkenalan denganku, dia sudah merasa akrab denganku. Pernyataan tadi tidak sama sekali menggangguku.
Nichkhun POV end
Di klinik...
Author POV
Di kamar Nyonya Im, tidurlah Nyonya Im. Disebelah tempat tidurnya, duduk Im Ju Hwan dan Tuan Im. Mereka sangat gelisah akan penyakit Nyonya Im.
Tidak lama, Nyonya Im bangun sambil terbatuk-batuk. Ah, dia mengeluarkan darah lagi. Tentu saja membuat Im Ju Hwan dan Tuan Im khawatir sampai memanggil dokter.
“STOP!” Nyonya Im mencegah Tuan Im memanggil dokter. Tuan Im pun berdiri di ambang pintu.
“Sudah tidak ada gunanya lagi memanggil dokter. Ini—“ Nyonya Im batuk-batuk lagi. Im Ju Hwan menyuruh Tuan Im cepat memanggil dokter.
Saat dokter sampai disana, Nyonya Im muntah darah. Ju Hwan membantu Nyonya Im untuk tiduran. Dokter dengan cepat memeriksa detak jantung Nyonya Im.
“Detak jantungnya sangat lemah,” kata dokter terlihat putus asa.
Im Ju Hwan dan Tuan Im berhadapan. Mereka kaget ketika dokter mengatakan itu. Nyonya Im memejamkan matanya dan berkomat-kamit tidak jelas. Seketika, mesin penunjuk detak jantung menunjukkan garis lurus.
___
Di Daebak...
Im Jin Ah keluar dari kelas bersamaan dengan Kim You Jin. Dia tampak lega karena sudah menyelesaikan tes tertulis. Tinggal besok, tes praktik.
“Wuaa... aku lega sekali, You Jin-aa—“ kata Jin Ah sambil ngulet.
“Emm.. aku juga. Tapi, aku sedikit takut,” kata You Jin tidak seperti biasa.
“Wae?” tanya Jin Ah membulatkan matanya.
“Soalnya susah sekaliii—“ kata You Jin putus asa.
“Yya, kita tidak boleh putus asa tauk!” kata Jin Ah merangkul sahabatnya itu.
Tiba-tiba, Minho dan Nichkhun muncul di depan mereka. Minho mengajak Jin Ah pulang. Sementara itu Nichkhun dijemput oleh ayahnya. Dan—You Jin tinggal berjalan kaki ke seberang. Rumahnya ada di seberang SMA Daebak.
“Yuk, pulang!” ajak Minho kepada Jin Ah.
“Yuk!” Jin Ah memakai helm-nya dan segera menuju ke parkiran motor bersama Minho.
Setelah sampai di parkiran, tanpa ba-bi-bu lagi, Minho langsung menyalakan mesin dan berangkat setelah Jin AH naik.
Author POV end
Nichkhun POV
Aku sudah dijemput setelah Choi Minho, Im Jin Ah dan Kim You Jin pulang. Aku langsung masuk ke dalam mobil dan menceritakan semua yang aku lakukan. Teman baru, teman lama, soal tes dan jawabanku.
“Kau tidak bertemu dengan Song Qian, ya?” tanya ayahku setelah aku menceritakan semuanya.
“Tidak. Ahh, aku lupa. Dia juga mendaftar di Daebak. Apa dia tadi kesana?” tanyaku khawatir.
“Tidak perlu khawatir, anakku. Dia mendaftar. Tetapi dia tidak ikut tes tertulis. Yah, karena bakat melukisnya dia langsung diterima tanpa tes tertulis. Dia hanya akan mengikuti tes praktik.”
Aku mengambil nafas lega. Sangat lega. Huh, memang Qian adalah pacar yang paling membuatku khawatir seumur-umur.
Song Qian adalah pacarku yang ketiga. Yang pertama adalah anak Thailand asli. Nama samarannya adalah NM. NM adalah cinta pertamaku. Kami hanya berpacaran selama 3 minggu. Karena NM menderita leukimia. Dia telah—telah pass away.
Selanjutnya, yang kedua adalah HJ. Dia adalah gadis yang sangat cerdas, berpengetahuan luas. Dia sangat dewasa. Kami berpacaran selama 7 bulan. Karena dia memutuskan untuk tidak berpacaran terlebih dahulu dan pergi ke Australia.
Dan yang ketiga adalah Song Qian. Gadis yang sangat awet denganku. Dia sangat halus dan pemalu. Matanya sangat indah dan selalu berbinar-binar ketika bertatapan denganku. Memang sangat manis. Tetapi dia akan sangat mengerikan apabila sedang marah. Sudah kurang lebih 1 tahun kami berpacaran. Mungkin dia memang gadis yang aku butuhkan.
Tiba-tiba pikiranku melayang ke Im Jin Ah. Baru saja aku mengenalnya. Tapi aku sudah merasakan betapa tajam tatapannya tadi. Mirip Qian apabila sedang marah. Mata mereka berdua sangat mirip.
Nichkhun POV end
Jin Ah POV
Aku dan Minho langsung menuju klinik tempat ibu dirawat. Aku melihat banyak tetangga menangis di depan klinik, di sebelah klinik. Mereka mengenakan baju serba hitam. Terlihat juga ayah dan Ju Hwan oppa di dalam sedang menangis.
Melihat ini aku segera masuk ke klinik. Menanyakan hal apa yang telah terjadi.
“Appa! Oppa! I—ini apa-apaan?” tanyaku berharap sesuatu tidak terjadi kepada ibuku.
Aku merasakan Minho ada di belakangku.
“Jin Ah-yya.. ibu—“ Ju Hwan oppa tergagap.
Aku mulai menutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku membaca karangan bunga yang terdapat persis di depan mataku. Ibu—
Kakiku terasa lemas setelah membaca nama ibu di karangan bunga tadi. Aku terduduk dan menangis. Tangisku semakin menjadi-jadi ketika Ju Hwan oppa memelukku erat-erat. Betapa jahat ibu meninggalkan kami semua! Mengapa ini harus terjadi kepadaku? Mengapa terjadi sekarang? Kenapa?
Badanku masih terasa lemas ketika aku memberi penghormatan terakhir untuk ibu. Aku melihat foto ibu yang terletak di sebelah guci kecil yang mungkin berisikan abu milik ibu. Ibu tersenyum dalam foto itu. Sangat ingin melihat senyumnya, Tuhan.
---
Setelah memberi penghormatan terakhir, aku tidak langsung pulang. Aku pergi menyendiri di Sungai Han. Aku biasa menyendiri disini. Aku biasa menenangkan diri disini. Bisa tenang karena disini tenang. Tidak ada yang tahu aku disini sekarang. Kecuali Tuhan tentunya.
Aku duduk di tepi Sungai Han. Langit sudah mulai gelap. Tetapi aku tidak peduli. Aku terus memandangi air tenang di Sungai Han. Sesekali aku meneteskan air mata dan melempar kerikil ke air.
#NP : Falling – Park Jin Young
Di Sungai Han sudah mulai ramai. Banyak memang orang yang memilih Sungai Han sebagai objek pacaran yang romantis. Aku mulai berjalan meninggalkan Sungai Han. Tetapi saat aku berjalan pulang, aku menemukan motor Minho.
“C10?” aku mendesis.
Aku melihat ke sekeliling. Ahh, itu dia Choi Minho. Duduk di bangku panjang yang berada di tepi sungai Han. Dia tampak mencari seseorang. Mungkin dia mencariku. Tapi, aku sedang tidak berselera untuk menghampirinya sekarang. Jadi aku melanjutkan berjalan ke rumah.
Tapi tiba-tiba aku mendengar suara Minho memanggilku dari kejauhan. Aku mendengar langkah kakinya yang berlari kecil menuju ke arahku. Aku sangat berharap dia tidak mengusik perasaanku.
“Jin Ah-yya,”Minho muncul di depanku persis. Dia tersenyum kecil. matanya berkaca-kaca.
“Minho-yya, aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun hari ini. Tolong—“ tenggorokanku tercekat seketika karena Minho memelukku dengan sangat erat.
“Jin Ah-yya—“ dia memanggilku lagi dengan suara yang serak.
“Minho-yya. Kenapa? Kau menangis?” tanyaku. Aku mulai mengelus-elus punggungnya.
Jin Ah POV end
Minho POV
“Jin Ah-yya,”aku muncul di depan Jin Ah persis. Aku tersenyum tipis.
“Minho-yya, aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun hari ini. Tolong—“ dia menolak untuk bertemu denganku. Tetapi aku segara memeluknya dengan erat.
“Jin Ah-yya—“ aku memanggilnya lagi dengan suara yang serak.
“Minho-yya. Kenapa? Kau menangis?” tanyanya. Dia mulai mengelus-elus punggungku.
Aku tidak mungkin memberi tahu yang sebenarnya kepada Im Jin Ah. Bahwa—
#STP : Falling – Park Jin Young
Flashback
Ayahku duduk bermesraan dengan Nyonya Im di teras depan rumah tua. Perlu diketahui, Nyonya Im memiliki darah seorang gisaeng Korea yang adalah nenek buyutnya. Jadi, tidak heran Nyonya Im bekerja menjadi PSK.
Ayah dulu adalah seorang playboy. Yang suka sekali bermain wanita. Salah satunya ya Nyonya Im itu. Nyonya Im adalah wanita yang menurut ayah wanita yang menarik. Wanita yang sangat setia. Sampai akhirnya mereka saling jatuh cinta dan berpacaran. Tetapi mereka kelewatan batas, sehingga Nyonya Im hamil.
Saat Nyonya Im hamil, ayah meninggalkannya begitu saja. Karena dia memang orang yang tidak bertanggung jawab. Ayah menikah dengan ibu dan tinggal jauh dari desa. Yaitu ke Seoul. Dan Nyonya Im sendiri, meratapi nasibnya sampai akhirnya dia menikah dengan ayah kandung Im Jin Ah dan pindah ke Seoul.
Ayah kandung Jin Ah adalah Tuan Im yang sekarang. Tuan Im dan Nyonya Im menikah saat Nyonya Im mengandung bayi yang bayi itu adalah aku sendiri. Setelah menikah dengan Tuan Im, Nyonya Im melahirkanku yang baru saja berusia 7 bulan.
Aku yang berusia 7 bulan terpaksa dirawat oleh Nyonya Im dan Tuan Im selama 2 tahun. Baru setelah itu, mereka menyerahkanku kepada ayah. Tetapi ibu tidak terima atas kehadiranku. Kehadiranku di tengah-tengah mereka berdua menimbulkan konflik yang sangat besar, hingga mereka bercerai sewaktu aku berumur 5 tahun.
Sejak aku berumur 5 tahun, aku diasuh oleh ayah sendiri. Dan secara tidak sengaja, ayah dengan Nyonya Im bertetangga sampai sekarang. Ayah menjadi kurang enak dengan keluarga Im dan berusaha baik di hadapan keluarga Im.
Setelah aku lahir, 1 bulan kemudian Nyonya Im mengandung Im Jin Ah. Dan baru aku tahu, bahwa Im Ju Hwan hyung bukan anak kandung dari Tuan Im dan Nyonya Im. Mereka mengadopsi Ju Hwan hyung tanpa sepengetahuan Ju Hwan hyung.
Aku mengetahui ini ketika aku secara tidak sengaja melihat buku harian dan foto ayah sewaktu masih muda. Aku yang waktu itu berumur 13 tahun merasa kecewa dengan ayah dan kurang enak dengan keluarga Im.
aku memang pernah bertemu dengan Nyonya Im. Sewaktu aku dan ayah berkunjung ke rumah Nyonya Im dan Tuan Im, aku terus memandangi wajah Nyonya Im yang cantik. Tidak kusangka ibu yang melahirkanku adalah ibu kandung dari Im Jin Ah juga.
Selain aku memandangi Nyonya Im, aku juga melihat ke arah Ju Hwan hyung yang hanya beda 2 tahun denganku dan 2 setengah tahun dengan Jin Ah. Aku selalu bermain dengannya dulu. Dia sangat menyenangkan dan mengasyikkan. Dia memiliki mata yang ramah dan senyum yang sopan.
Berbeda dengan Jin Ah yang memiliki tatapan mata yang sinis kepada seseorang yang belum pernah dia kenal. Tetapi dia juga memiliki tatapan mata yang menyenangkan kepada seseorang yang sudah sangat ia kenal. Senyumnya terkadang sangat nakal, sesuai dengan perilaku dan sifatnya yang jahil dan aktif.
Flashback end
_--
Author POV
Esoknya, di rumah keluarga Im...
Im Jin Ah sama sekali tidak mau keluar kamar. Apalagi keluar rumah. Sama sekali tidak. Dia merasa lebih tenang di kamar. Sambil membaca-baca novel yang ia pinjam dari Kim You Jin, ia mencoba tidak terlalu menyalahkan ibunya.
Dia mendengar ayah dan Ju Hwan oppa berbicara dengan seseorang. Sepertinya bukan seseorang. Melainkan 2 orang.
Ternyata 2 orang itu adalah Minho dan You Jin. Jin Ah tau itu karena dia hafal sekali dengan suara mereka. Jin Ah mencoba untuk mengacuhkan segalanya yang berada di sekitarnya.
“Tuan, mm—apa Jin Ah baik-baik saja?” tanya You Jin dengan sangat halus kepada Tuan Im.
Tuan Im tersenyum,”Baik-baik saja. Hanya sedikit terpukul. Dia sama sekali tidak mau keluar dari kamar,” katanya.
Minho mengangguk kecil. dia tahu persis bagaimana kehilangan seorang ibu kandung. Dia pun merasakannya. Tiba-tiba Tuan Im melihat ke arahnya. Dia hanya bisa menunduk.
“Minho itu—anak yang sangat tegar, ya,” kata Tuan Im tiba-tiba.
You Jin tidak mengerti,”Kenapa Tuan?” tanyanya.
“Haha.. tidak apa-apa. Soalnya—Nyonya Im dan Choi Minho itu sangat dekat. Im Jin Ah dan Choi Minho itu dekat dari kecil,” kata Tuan Im berusaha tidak membocorkan sesuatu.
“Ohh—jadi, gimana Minho-yya?” tanya You Jin menyenggol lengan Minho.
Minho kaget,”Hah?” dia menengok ke arah You Jin yang tingginya sekitar di bawah bahunya.
“Hah? Kok malah ‘hah’?” You Jin bingung.
“Mm—oh ya Tuan. Kami ingin mengajak Jin Ah tes praktik di Daebak,” kata Minho.
Tuan Im hanya menggelengkan kepala. Dia terlihat putus asa.
“Sudah pasti dia tidak mau. Dia memang sedang butuh sendiri. Apa susulan tidak bisa?” tanyanya.
“Kayaknya bisa, Om.” Kata You Jin,”Om, kami—turut berduka cita.”
Tuan Im mengangguk dan tersenyum. Tatapannya menuju ke arah Choi Minho. Tatapan tadi dirasakan juga oleh Kim You Jin. You Jin merasakan ada suasana yang aneh disini.
---
Di Daebak, Minho dan You Jin bertemu dengan Nichkhun. Seperti biasa, mereka menggerombol lagi. Tapi, kali ini tidak ada Im Jin Ah. Dan posisi Jin Ah digantikan oleh Qian. Song Qian.
“Wuaa—inikah yang namanya Song Qian?” seru You Jin setelah datang di gerombolan Nichkhun.
“Emm.. iya. Ini Qian. Qian, ini Kim You Jin,” kata Nichkhun tersenyum.
“Ooh.,” Qian menyambut uluran tangan You Jin,”...dan mana yang satunya lagi?”
Minho dan You Jin saling menatap.
“Di—dia...” You Jin bingung.
“Dia masih berduka dengan ibunya yang baru saja pass away kemarin,” kata Minho menyambung kata-kata You Jin.
“Ooh.,” Qian sekali lagi mengucapkan kata ‘oh’.
Nichkhun lalu mengajak mereka bertiga masuk ke ruang praktik. Parktik kali ini adalah praktik story telling.
Author POV end
Jin Ah POV
Aku masih terpukul atas kepergian ibu. Aku masih ingin melampiaskannya dengan sendiri. Jadi aku memutuskan untuk tidak mendaftar ke Daebak. Lebih baik aku bekerja daripada aku bersekolah disana. Uang SPP-nya sangat mahal. Masuk kesana sama saja aku membunuh ayah dan Ju Hwan oppa.
Ju Hwan oppa masuk kamarku. Ahh, aku lupa mengunci kamar. Fuuh.. memang cerdik kakakku yang satu ini.
“Permisi, Nona Penyendiri—“ kata Ju Hwan oppa berusaha menghiburku.
Aku masih duduk di tepi ranjang ketika oppa masuk. Ju Hwan oppa lalu duduk di sampingku.
“Tadi Minho dan... dan—“ Ju Hwan oppa ternyata tidak mengenal You Jin.
“Kim You Jin?” aku tertunduk.
“Ne, Kim You Jin. Aku tidak yakin dia You Jin. Dia sudah berubah menjadi gadis kalem yang manis,” kata Ju Hwan oppa sendirian (mungkin).
“Hah?” aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ju Hwan oppa. Aku lalu menengok ke arah Ju Hwan oppa dan tertawa terbahak-bahak.
“Yo! Girl! Kalo kamu ketawa, baru namanya Im Jin Ah,” kata Ju Hwan oppa bergaya seperti rapper.
“Memangnya kalo nggak ketawa, bukan Im Jin Ah?”
“Kalo nggak ketawa, berarti Im Ju Hwan.”
“Ish? Sok cool Oppa!”
“Emang cool ‘kan?”
Aku memukul bahu Ju Hwan oppa.
“Bisa ‘kan kamu enggak terlalu sedih buat Ibu?” tanya oppa.
Aku hanya diam. Ju Hwan oppa duduk lebih dekat denganku.
“Kalo sedihnya sampai seperti ini, namanya lebay. Lebay itu membesar-besarkan sesuatu. Hidup itu dibikin enteng. Gak usah yang dibikin besar-besaran, berat. Emang sih Life is Never Flat. Tapi Never Flat-nya itu.. dibikin hepi,” kata Ju Hwan oppa menerawang ke langit-langit kamar.
“Emm.,” aku masih mencerna perkataan Ju Hwan oppa.
“Tes praktik tadi kamu enggak ikut. Sayang banget,” kata Ju Hwan oppa.
“Iya sih. Tapi ‘kan besok ada susulan.”
“Kata siapa?”
“Kata You Jin.”
“You Jin tadi kesini. Katanya pengumuman besok. Enggak ada yang namanya susulan.”
Aku kaget setengah mati,”HAH? Jadi, aku—aku enggak kabulin permintaan ibu yang terakhir?”
“Apa—itu permintaan ibu?” Ju Hwan oppa ikut-ikutan panik.
“DUH! Gimana nih?” aku panik.
Ju Hwan oppa keluar karena panik. Dia teriak-teriak kepada ayah memberi tahu apa yang terjadi. Lalu terdengar ayah mengatakan sesuatu dengan santai. Ju Hwan oppa pun reda.
Jin Ah POV end
---
Author POV
Esoknya...
#NP : Fallin’ - BoA
SMA Daebak tidak seperti biasa. Ramai dengan anak-anak. Tapi anak-anak ini bersama dengan orang tuanya. Jadi terlihat lebih banyak dari biasanya. Anak-anak menggerombol di papan pengumuman. Yah, ini berlaku bagi yang suka nggerombol. Nichkhun, Qian, Minho, dan You Jin sudah berada disana dari pagi-pagi sekali.
“Sebentar—aku akan mencari namaku!” You Jin ngebet.
Jari-jari You Jin menyapu semua nama. Sampai akhirnya berhenti di sebuah nama. KIM YOU JIN DINYATAKAN MASUK DAEBAK. Pernyataan ini membuatnya sangat bahagia sampai-sampai membuat rusuh.
Selanjutnya adalah giliran Qian. Qian dengan teliti melihat nama-nama yang marganya Song. Tentu saja dia mencari dari atas. Dan betul. Dia diterima. Dia hanya tersenyum bangga dan memeluk erat-erat Nichkhun.
Selanjutnya lagi adalah Nichkhun. Dia benar-benar khawatir. Dia tidak yakin dirinya masuk Daebak. Dia melihat dari bawah nama-nama yang berhuruf dengan ‘N’. Tiba-tiba dia berhenti menunjuk satu nama. NICHKHUN BUCK H. Dinyatakan menjadi cadangan. Dia benar-benar tidak tahu maksud cadangan tadi.
“Qian-aa. Cadangan itu maksudnya apa?” Nichkhun bertanya kepada Qian.
“Kau cadangan keberapa?” tanya Qian balik.
Nichkhun kembali melihat papan pengumuman. Lalu kembali ke hadapan Qian.
“Satu,” kata Nichkhun pendek.
“Emm.. masih ada kemungkinan masuk, Khunnie!” Qian terlihat senang.
Sekarang giliran Minho. Terlebih dahulu dia mencari nama Im Jin Ah. Dia menemukan nama Jin Ah berada di paling bawah. Dan dinyatakan tidak masuk Daebak. Minho langsung keluar dari kerumunan.
Nichkhun, Qian dan You Jin melihat tingkah Minho yang aneh tadi. Tapi, mereka tidak mengerti mengapa Minho keluar dari kerumunan dan pergi meninggalkan mereka bertiga menuju halte bus di depan.
Author POV end
Jin Ah POV
Aku masih panik akan yang dikatakan Ju Hwan oppa kemarin. Aku sekarang sedang menunggu bus di halte bus dekat perumahan.
Ahh, itu ada bus. Aku akan langsung masuk, tetapi seorang pria menubrukku sampai aku terjatuh dan lari begitu saja. Aku berdiri lagi dan mengacuhkan orang tadi. Aku masuk kedalam bus dan duduk di paling depan.
Kertas di tanganku sudah sangat kucel karena sedari tadi menggulung-gulung kertas ini. Ini adalah kertas yang berisikan cerita untuk aku sampaikan nanti di depan kepala sekolah Daebak. Aku masih khawatir dan gugup. Tapi setelah melihat SMA Daebak, aku berusaha untuk menyembunyikan kepanikanku.
Aku turun dari bus dan menyeberang ke Daebak. Hmm—memang ramai dan lebih ramai dari sebelumnya. Waa.. aku menemukan panggung dan mic yang kira-kira nanti pasti akan jadi tempat sambutan kepala sekolah.
Aku segera ke kantor kepala sekolah dengan langkah yang santai. Berusaha untuk menjadi anak yang permberani dan tidak lebay. Itu... aku mengutip dari perkataan Ju Hwan oppa (hehe).
#STP : Fallin’ - BoA
Aku mengetuk pintu ruang kepsek. Dan kepsek pun mempersilahkan aku masuk.
“Siapa? Ada apa?” kepsek tidak melihat ke arahku setelah aku membuka pintu ruangnya.
Aku sengaja tidak mengatakan apapun sebelum wanita ini melihat ke arahku. Benar saja, wanita itu melihatku dan membenarkan kacamatanya.
“Aku—adalah Im Jin Ah, siswa yang...” kataku terputus karena dia membuka mulutnya.
“Im Jin Ah yang peringkat paling bawah?” katanya melepas kacamatanya.
Sepertinya aku mengenal wanita ini. Aku segera mengingat-ingat wajahnya yang mirip seseorang.
“Tidak kusangka, kita bertemu disini Nona Im,” katanya lagi mendekatiku.
Aku melihat matanya baik-baik. Sangat mirip dengan—ah, aku ingat. Dia adalah.......
#NP : (Ending Theme) Love Love Love – Epic High
Part 1 end
Langganan:
Entri (Atom)
